Viral di Media Sosial, Mengenal Fenomena Lipstick Effect

  • 22 Mei 2026 15:38 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Pernahkah anda mendengar istilah Lipstick Effect ? Ya, Fenomena ini belakangan ramai dibahas di media sosial. Banyak warganet mengaitkan tren ini dengan situasi ekonomi Indonesia saat ini, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Lantas, apa yang dimaksud dengan fenomena lipstick effect ?

Fenomena lipstick effect menggambarkan perilaku masyarakat yang tetap membeli barang-barang kecil bernilai mewah untuk memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis di tengah tekanan ekonomi, seperti kosmetik, kopi kekinian, maupun makanan favorit, di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Kondisi ini muncul ketika masyarakat cenderung mencari bentuk hiburan atau kepuasan melalui pengeluaran yang relatif terjangkau, meski situasi keuangan sedang tidak menentu.

Melansir daya.id, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Juliet Schor melalui bukunya berjudul The Overspent American. Namun, konsep tersebut mulai dikenal luas setelah dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan pemimpin perusahaan kosmetik global The Estée Lauder Companies yang mengamati adanya peningkatan penjualan lipstik saat masa resesi ekonomi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun masyarakat mulai menekan pengeluaran untuk barang-barang mewah bernilai besar, mereka tetap berupaya mencari bentuk hiburan atau kepuasan sederhana bagi diri sendiri.

Tidak hanya terbatas pada produk kecantikan, fenomena ini juga menggambarkan kondisi psikologis konsumen. Ketika menghadapi tekanan atau ketidakpastian, banyak orang cenderung mencari hal-hal kecil yang dapat memberikan rasa nyaman dan meningkatkan suasana hati, termasuk melalui aktivitas berbelanja produk dengan harga yang masih terjangkau.

Lalu apa saja penyebab terjadinya fenomena lipstick effect ? Dikutip dari Banksqu, berikut informasi selengkapnya.

1. Pelepas Penat di Tengah Kondisi Sulit

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, banyak orang mencari cara sederhana untuk mengurangi rasa stres dan cemas. Membeli barang kecil yang disukai pun kerap menjadi bentuk hiburan singkat agar suasana hati terasa lebih baik dan hidup tetap terasa terkendali.

2. Belanja Kecil Bisa Meningkatkan Mood

Aktivitas berbelanja, meski hanya membeli barang sederhana, dapat memunculkan rasa senang. Karena itu, tidak sedikit orang menjadikan kopi favorit, camilan, atau produk kecil lainnya sebagai “hadiah” untuk diri sendiri setelah menjalani hari yang melelahkan.

3. Menjadi Simbol Harapan

Bagi sebagian orang, menikmati hal-hal kecil di tengah situasi sulit dianggap sebagai tanda bahwa keadaan belum sepenuhnya buruk. Kebiasaan ini juga bisa memunculkan rasa optimistis bahwa masa sulit tetap dapat dijalani perlahan.

4. Pengaruh Tren di Media Sosial

Media sosial turut mendorong munculnya fenomena ini. Konten gaya hidup, rekomendasi produk, hingga tren belanja membuat banyak orang tertarik ikut membeli barang yang sedang populer, meski sebenarnya sedang berusaha menghemat pengeluaran.

5. Harga Relatif Terjangkau

Produk yang sering dikaitkan dengan lipstick effect umumnya memiliki harga yang masih dianggap terjangkau dibanding barang mewah lainnya. Namun, jika kebiasaan belanja kecil dilakukan terus-menerus tanpa kontrol, pengeluaran tetap bisa membengkak.

Fenomena lipstick effect menunjukkan bahwa perilaku belanja tidak selalu didorong oleh kebutuhan, tetapi juga dipengaruhi kondisi emosional dan psikologis. Meski membeli barang kecil dapat menjadi cara sederhana untuk mencari hiburan dan menjaga suasana hati, masyarakat tetap perlu bijak mengatur pengeluaran agar kebiasaan tersebut tidak berdampak pada kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....