Ramai Joki Strava di Media Sosial

  • 11 Jul 2024 09:20 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak: Ramai di media sosial, ada joki Strava buat orang-orang yang cuma ikut trend lari. Berlari telah lebih dari sekedar olahraga dalam beberapa tahun terakhir, telah berevolusi menjadi gaya hidup dimana orang-orang memposting pakaian dan prestasi berlari di Media Sosial. Tren joki Strava sendiri menuai cukup banyak komentar dari para netizen . Kebanyakan menilai para penyewa jasa joki Strava sebagai orang yang haus akan pengakuan sosial, hingga rela ‘memalsukan’ informasi kebugarannya.

Baru-baru ini ada sebuah tweet menjadi viral karena menawarkan layanan “Joki Strava” sehingga mereka yang membelinya dapat memposting tangkapan layar dari trek lari seolah-olah itu milik mereka sendiri.

Tangkap layar salah satu akun X mengenai joki strava.

Dengan kata lain, pengguna Aplikasi Strava tidak benar-benar berolahraga sendiri karena yang menggunakan Aplikasi adalah Joki alias orang lain. Biasanya, hasil aktivitas olahraga yang berhasil dilacak dan direkam Aplikasi Strava akan ditangkap layar (screenshot) oleh pengguna untuk dipamerkan di Media Sosial.

Fenomena joki Strava memunculkan pertanyaan besar, yakni mengapa sebagian orang melakukan segala cara demi mengunggah alias update sesuatu di Media Sosial? Secara psikologis, ternyata hal ini dapat dijelaskan. Psikolog sekaligus Ketua Lembaga M.eureka Psychology Consultant Meity Arianty STP, Mpsi menjelaskan, para pengguna jasa joki tersebut melakukannya demi pengakuan dari masyarakat atau lingkungan sekitarnya.

“Orang seperti ini biasanya orang yang infantil (bersifat kekanak-kanakan), persis anak-anak atau remaja yang sedang mencari jati diri dan butuh pengakuan”, Ucap Meity dikutip dari Kompas.com, Senin (8/7/2024).

Dalam kasus ini, mereka mungkin ingin mendapatkan pujian tertentu karena berhasil mencapai jarak tertentu dengan memamerkan hasil tangkap layarnya di Media Sosial. Padahah olahraga adalah kegiatan yang seharusnya dilakukan untuk membuat tubuh lebih bugar dan sehat.

Pengakuan dari orang lain seharusnya tidak penting. Namun, hal tersebut bisa dipahami karena saat ini, banyak orang seringkali mengira bahwa validasi diukur berdasarkan like, comment, save, dan share yang diperoleh di Media Sosial. Jika hal tersebut terus dilakukan, tanpa sadar kita sama saja membohongi diri sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....