Kacaping, Harmoni Kearifan Mandar dalam Keberagaman Nusantara
- 22 Agt 2026 14:52 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Di tanah Mandar, Sulawesi Barat, terdapat alat musik tradisional bernama kacaping Mandar, kecapi berdawai ganda yang memiliki bentuk dan cara permainan berbeda dari kecapi di daerah lain. Melansir indonesiakaya.com, alat musik ini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Mandar yang banyak mendiami wilayah pesisir. Bentuknya yang menyerupai perahu menjadi ciri khas tersendiri, dengan bagian leher instrumen menyerupai anjong atau haluan perahu. Bentuk tersebut diyakini terinspirasi dari kehidupan masyarakat Mandar yang lekat dengan tradisi bahari.
Bagi masyarakat Mandar, bentuk perahu pada kacaping bukan sekadar keunikan visual, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Praktisi sekaligus pengrajin kacaping Mandar, Aba Fatimah, menjelaskan bahwa bentuk tersebut menggambarkan kerinduan masyarakat Mandar kepada para pelaut yang sedang mengarungi lautan. Kacaping juga hanya memiliki dua senar dan lima fret, sehingga menghasilkan karakter bunyi dan teknik permainan yang khas. Dari bentuk dan suaranya, alat musik ini seakan menjadi penghubung antara kehidupan masyarakat, laut, dan warisan leluhur.
Keunikan kacaping Mandar juga terlihat dari bahan pembuatannya. Para pengrajin umumnya menggunakan kayu nangka yang memiliki pori-pori rapat, kuat, tahan terhadap rayap, serta mudah ditemukan di Sulawesi Barat. Sebelum dibentuk, kayu nangka dijemur selama beberapa hari hingga benar-benar kering dan berubah warna menjadi kecokelatan. Setelah itu, kayu dipahat menyerupai perahu dan dilengkapi senar berbahan kawat nirkarat atau stainless steel. Pada masa lalu, ketika senar gitar belum dikenal luas, pengrajin bahkan memanfaatkan tali kopling motor yang telah disayat sebagai alternatif.
Warisan kacaping terus hidup melalui para pemain yang disebut pakkacaping. Mereka terdiri atas pakkacaping tommuane atau pemain laki-laki dan pakkacaping tobaine atau pemain perempuan. Keduanya memiliki karakter permainan yang berbeda, baik dari segi irama, melodi, maupun teknik memetik. Pemain laki-laki umumnya membuka permainan dengan nada tinggi yang bersemangat, sementara pemain perempuan cenderung menghadirkan nada tinggi pada bagian akhir permainan.
Cara memainkan kacaping pun menjadi bagian dari keunikannya. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipangku seperti sedang menggendong bayi, sementara pemain mendekatkan mulut ke bagian atas kacaping ketika melantunkan syair. Permainannya tidak mudah karena kacaping Mandar tidak memiliki sistem solmisasi yang baku seperti kecapi Bugis yang memiliki tujuh fret. Keterampilan memainkan alat musik ini lebih banyak diperoleh melalui proses belajar dan pewarisan secara langsung dari para pemain terdahulu.
Diperkirakan, tradisi kacaping Mandar telah berkembang sejak sebelum masuknya Islam di Sulawesi Barat. Pada masa awal, permainan kacaping dipercaya memiliki nilai sakral dan menjadi bagian dari komunikasi dengan roh para leluhur. Seiring masuknya Islam, nilai-nilai lama dalam tradisi pakkacaping beradaptasi dengan ajaran Islam dan terus diwariskan hingga sekarang. Karena itu, kacaping Mandar bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang merekam hubungan masyarakat Mandar dengan laut, leluhur, alam, dan perjalanan sejarah Nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....