Belajar Toleransi dari Tidayu, Warisan Harmoni untuk Indonesia

  • 29 Jun 2026 08:42 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Di Kalimantan Barat, ada sebuah istilah yang mencerminkan eratnya hubungan antarwarga dari latar belakang budaya yang berbeda, yakni Tidayu. Akronim ini merupakan gabungan dari tiga etnis besar di provinsi tersebut, yaitu Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Mengutip goodnewsfromindonesia, lebih dari sekadar singkatan, Tidayu telah menjadi simbol persatuan yang lahir dari kehidupan masyarakat yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun.

Keberagaman tersebut tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai simbol budaya. Salah satunya adalah Bundaran 1001 yang berada di persimpangan Jalan Sakkok, Jalan Tani, dan Ahmad Yani. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman, bundaran ini dibangun sebagai representasi tiga etnis utama di Kalimantan Barat sekaligus menjadi lambang toleransi dan keharmonisan masyarakat setempat. Semangat yang sama juga tampak dalam berbagai festival budaya yang melibatkan seluruh komunitas tanpa memandang latar belakang etnis.

Keharmonisan Tidayu juga tercermin melalui penggunaan bahasa sebagai alat pemersatu. Penelitian dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa Universitas Tanjungpura menemukan bahwa mahasiswa dari berbagai etnis di Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin mampu membangun interaksi yang akrab. Bahasa Melayu berperan sebagai bahasa penghubung dalam komunikasi sehari-hari, sementara bahasa Mandarin menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dari beragam budaya.

Menariknya, proses akulturasi tersebut tidak menghilangkan identitas budaya masing-masing. Mahasiswa tetap mempertahankan bahasa daerah dan nilai budaya yang telah dipelajari sejak kecil, sehingga interaksi lintas etnis justru memperkaya pengalaman sosial tanpa menghapus jati diri setiap kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman dapat berjalan selaras dengan pelestarian identitas budaya.

Semangat kebersamaan itu juga terlihat dalam perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang. Penelitian yang dimuat dalam Jurnal PIPSI (Jurnal Pendidikan IPS Indonesia) menyebutkan bahwa perayaan yang identik dengan budaya Tionghoa ini telah berkembang menjadi pesta budaya yang dirayakan oleh masyarakat dari berbagai etnis. Selain menjadi daya tarik wisata internasional, Cap Go Meh juga menjadi media yang memperkuat persaudaraan dan mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.

Keberadaan masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat sendiri memiliki sejarah yang panjang. Kajian yang dipublikasikan dalam JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Universitas Tanjungpura menjelaskan bahwa budaya Tionghoa di wilayah ini telah berkembang selama ribuan tahun. Warisan tersebut mencakup bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, mata pencaharian, kepercayaan, hingga kesenian yang masih terus dilestarikan dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Barat.

Kisah Tidayu memberikan pelajaran berharga bahwa keberagaman tidak harus menjadi sumber perbedaan yang memisahkan. Sebaliknya, melalui interaksi yang saling menghormati, perbedaan dapat tumbuh menjadi identitas bersama yang memperkuat persatuan. Pengalaman Kalimantan Barat membuktikan bahwa toleransi yang paling kuat lahir dari kehidupan sehari-hari, ketika masyarakat memilih untuk saling mengenal, bekerja sama, dan merayakan keberagaman sebagai kekayaan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....