Mengenal Sepak Sawut, Sepak Bola Tradisional dengan Bola Menyala

  • 23 Jun 2026 14:02 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak- Di tengah semarak Piala Dunia 2026, Indonesia juga memiliki permainan tradisional yang unik, yakni Sepak Sawut dari suku Dayak. Berbeda dengan sepak bola modern, permainan ini menggunakan bola api yang terbuat dari sabut kelapa. Selain menguji ketangkasan dan keberanian pemain, Sepak Sawut juga menjadi warisan budaya yang kaya akan nilai sejarah dan tradisi turun-temurun.

Melansir wikipedia, Sepak Sawut merupakan salah satu permainan tradisional khas suku Dayak yang berasal dari Kalimantan. Sekilas permainan ini menyerupai sepak bola, namun memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan bola yang menyala dengan api. Bola tersebut dibuat dari sabut kelapa tua yang telah dikupas hingga menyisakan serabutnya, kemudian direndam dengan minyak tanah dan dibakar sebelum dimainkan.

Permainan ini pada awalnya memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Dayak. Dahulu, Sepak Sawut dimainkan sebagai bagian dari ritual adat ketika ada anggota masyarakat yang meninggal dunia. Bola api yang dimainkan diyakini mampu mengusir roh-roh jahat agar tidak mendekati keluarga yang sedang berduka. Selain itu, permainan ini juga menjadi sarana hiburan bagi keluarga dan warga yang berkumpul dalam suasana duka.

Seiring perkembangan zaman, fungsi Sepak Sawut mulai bergeser. Permainan ini tidak lagi identik dengan ritual kematian, melainkan sering digelar sebagai bentuk ungkapan syukur atas rezeki atau keberhasilan yang diperoleh seseorang. Saat ini, Sepak Sawut lebih banyak ditampilkan dalam berbagai festival budaya dan kegiatan pelestarian tradisi, seperti Festival Budaya Isen Mulang, Palangka Fair, serta sejumlah acara budaya lainnya di Kalimantan Tengah.

Dari sisi permainan, Sepak Sawut memiliki aturan yang hampir sama dengan sepak bola. Dua tim saling berhadapan dengan tujuan memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak mungkin. Pertandingan biasanya berlangsung selama dua babak masing-masing 10 menit dan dimainkan di lapangan berukuran hampir sama dengan lapangan bola basket. Setiap tim idealnya terdiri atas lima pemain yang bermain tanpa menggunakan alas kaki.

Meski menggunakan bola yang terbakar, hingga kini permainan Sepak Sawut relatif aman dimainkan oleh masyarakat yang telah memahami tekniknya. Risiko yang paling sering terjadi adalah percikan api yang mengenai rambut atau bagian tubuh pemain. Untuk mengurangi kemungkinan luka bakar, para pemain biasanya mengoleskan pasta gigi atau pelumas tertentu pada tubuh sebelum bertanding. Keunikan inilah yang menjadikan Sepak Sawut sebagai salah satu warisan budaya tradisional yang menarik dan patut dilestarikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....