Jejak Tradisi dalam Secangkir Kopi Aceh

  • 19 Mei 2026 17:57 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak -Aceh dikenal sebagai daerah yang kaya akan rempah dan kuliner khas Nusantara. Selain terkenal dengan hidangan seperti mie Aceh, martabak, dan sie kameng, daerah berjuluk Serambi Makkah ini juga memiliki kopi khas yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Kawasan yang berada pada ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut itu mencakup Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Kondisi tanah yang subur serta iklim yang sejuk menjadikan kopi Aceh memiliki cita rasa khas yang berbeda dari kopi daerah lainnya di Indonesia.

Dilansir dari indonesiakaya.com, bagi masyarakat Aceh, kopi bukan hanya hasil perkebunan semata, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Tradisi minum kopi telah berlangsung turun-temurun dan menjadi kebiasaan yang melekat dalam budaya masyarakat. Kedai kopi menjadi tempat berkumpul, berbincang, hingga berbagi cerita. Tidak heran jika pagi, siang, maupun malam, warung kopi di berbagai sudut Aceh selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai kalangan.

Keunikan kopi Aceh juga terlihat dari ragam jenis dan cita rasanya. Secara umum, kopi Aceh terdiri dari dua jenis utama, yaitu arabika dan robusta. Salah satu yang paling populer adalah kopi arabika Gayo yang tumbuh di dataran tinggi. Kopi ini dikenal memiliki rasa yang kompleks, tingkat keasaman yang seimbang, serta aroma khas yang lembut. Kualitasnya yang tinggi membuat kopi arabika Gayo tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Aceh, tetapi juga dikenal luas hingga pasar internasional.

Pengakuan dunia terhadap kopi Gayo semakin kuat setelah kopi ini memperoleh sertifikasi Fair Trade Certified™ dari organisasi perdagangan adil dunia atau World Fair Trade Organization (WFTO). Sertifikasi tersebut menunjukkan bahwa kopi Gayo diproduksi melalui praktik perdagangan yang lebih adil dan berkelanjutan. Selain menjamin kualitas produk, sertifikasi ini juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani melalui harga jual yang lebih stabil dan peluang pasar yang lebih luas.

Selain arabika Gayo, kopi robusta Aceh juga memiliki penggemar tersendiri. Kopi ini dikenal memiliki karakter rasa yang lebih kuat, pahit, dan pekat dengan kandungan kafein yang lebih tinggi. Sentra produksi kopi robusta Aceh berada di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh. Hampir seluruh kedai kopi di kota tersebut menyajikan kopi khas ini dengan proses pengolahan tradisional yang membuat aroma dan rasanya semakin khas.

Menariknya, kopi Aceh tidak hanya diseduh menggunakan air panas, tetapi juga dimasak terlebih dahulu sebelum disaring berulang kali agar menghasilkan tekstur yang lebih halus. Di kedai kopi Aceh, minuman ini biasanya disajikan dalam tiga variasi utama, yaitu kopi hitam, kopi susu, dan sanger. Di antara ketiganya, sanger menjadi salah satu yang paling unik karena menggunakan campuran kopi saring, susu kental, dan gula dengan takaran yang lebih ringan sehingga rasa kopi tetap dominan. Minuman ini kemudian dikocok hingga berbusa, menghasilkan tekstur lembut yang menjadi ciri khas kopi Aceh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....