Buku “Di Balik Kunyahan Pinang”, Potret Budaya dan Identitas Orang Papua

  • 16 Mei 2026 14:18 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Di sudut-sudut jalan Papua, suara tawa sering terdengar bersamaan dengan aktivitas sederhana: mengunyah pinang. Bagi sebagian orang luar, kebiasaan ini mungkin hanya dianggap rutinitas harian. Namun melalui buku “Di Balik Kunyahan Pinang (Budaya, Tubuh, dan Identitas Orang Papua)”, penulis Yuliana mengajak pembaca melihat makna yang jauh lebih dalam di balik tradisi tersebut.

Menurut Laman books.google.co.id , Buku ini menghadirkan pinang bukan sekadar buah kunyah, melainkan simbol budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Papua. Dari pasar tradisional hingga pertemuan keluarga, pinang menjadi bagian dari interaksi sosial yang menyatukan banyak orang tanpa memandang usia maupun latar belakang. Dicetak pertama pada April 2026, buku ini dapat diakses secara onlien di https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=7CTTEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=biak+papua&ots=RxTeFlnjri&sig=RcaQnLcBJTVfhr5DKmYdofY0OFU)

Buku Di Balik Kunyahan Pinang (Budaya, Tubuh, dan Identitas Orang Papua) penulis Yuliana (Foto: https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=7CTTEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=biak+papua&ots=RxTeFlnjri&sig=RcaQnLcBJTVfhr5DKmYdofY0OFU)

Melalui bahasa yang hangat dan reflektif, Yuliana menggambarkan bagaimana orang Papua memiliki kedekatan tersendiri dengan tradisi mengunyah pinang. Bibir merah akibat kunyahan pinang yang sering dipandang sebelah mata justru menjadi identitas yang menyimpan cerita tentang kebersamaan, penerimaan sosial, dan akar budaya.

Buku ini juga menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat Papua yang kerap luput dari perhatian. Tradisi pinang tidak hanya berbicara tentang kebiasaan, tetapi juga tentang ruang komunikasi. Banyak percakapan penting, canda, hingga penyelesaian masalah dilakukan sambil berbagi pinang. Dalam budaya Papua, kebersamaan sering kali dimulai dari satu kunyahan sederhana.

Buku Di Balik Kunyahan Pinang (Budaya, Tubuh, dan Identitas Orang Papua) penulis Yuliana (Foto: https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=7CTTEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=biak+papua&ots=RxTeFlnjri&sig=RcaQnLcBJTVfhr5DKmYdofY0OFU)

Tidak hanya mengangkat budaya lokal, karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa identitas masyarakat Papua dibangun dari hal-hal kecil yang diwariskan lintas generasi. Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, tradisi mengunyah pinang tetap bertahan sebagai penanda jati diri.

Melalui buku ini, pembaca diajak memahami Papua dari sudut pandang yang lebih dekat. Yuliana seakan ingin mengatakan bahwa di balik warna merah pinang yang melekat di bibir masyarakat Papua, tersimpan kisah tentang sejarah, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap tanah serta budaya mereka sendiri.

“Di Balik Kunyahan Pinang” bukan hanya buku tentang tradisi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kebiasaan sederhana mampu menjaga identitas suatu masyarakat tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....