Ternyata Majalah Bobo Bukan Dari Indonesia
- 03 Agt 2024 13:08 WIB
- Biak
KBRN, Biak: Buat sebagian Gen X dan Milenial, majalah Bobo mungkin menjadi memori masa kecil yang tak terlupakan. Bagaimana tidak, majalah ini sudah seperti "teman masa kecil" di saat teknologi belum secanggih sekarang. Tapi ternyata, majalah yang menemani masa kecil masyarakat Indonesia ini bukan berasal dari Indonesia.
Awalnya, Harian Kompas membuat halaman khusus untuk anak-anak yang terbit pada 1965. Dari situ, muncullah ide dari pendiri Kompas, yaitu P. K. Ojong dan Jakob Oetama untuk mengembangkan majalah anak-anak. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kerja sama dengan majalah dari Belanda, yaitu majalah Bobo untuk membuat versi Indonesianya.
Kemudian, mereka menggabungkan rubrik anak-anak di Harian Kompas yang berjumlah 16 halaman dengan Bobo Versi Belanda. Majalah Bobo saat itu masih menggunakan kertas koran dan menjadi majalah anak-anak pertama yang berwarna.
Majalah Bobo sendiri sudah ada di Belanda sejak 1968, dan baru ada di Indonesia pada 14 April 1973. Tidak hanya itu, nama-nama karakter yang ada di majalah Bobo Indonesia pun merupakan adaptasi dari majalah Bobo Belanda, seperti: Bibi Teliti (Pieta Secuur), Paman Gembul (Oom Slokoр), Upik (Boemsi), Tut-tut (Tsjoek-tsjoek), Coreng (Krabbel). Sedangkan, nama karakter Bobo tetap sama di versi Belanda maupun Indonesia.
Sempat Tutup, Pada Januari 2023, Kompas Gramedia memutuskan untuk menghentikan produksi beberapa medianya yaitu, Majalah Bobo Junior, Majalah Mombi, Majalah Mombi SD, dan Tabloid Nova.
Penutupan itu pun seperti dikonfirmasi oleh majalah Bobo, karena akun instagram resminya memposting ulang Story pengikutnya yang mengucapkan selamat tinggal kepada Majalah Bobo Junior. Untungnya, 5 bulan setelah itu, tepatnya pada Juni 2023, majalah Bobo "bangkit kembali" dengan langkah yang menghebohkan. Majalah Bobo menerbitkan seri khusus, yaitu seri 50 tahun.
Majalah Bobo seri 50 tahun ini hanya dijual dalam jumlah terbatas. Parahnya, hal ini justru dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang menjual dengan harga selangit, yaitu Rp750 ribu. Padahal, harga resminya hanya Rp75 ribu.
Meski dimanfaatkan oleh beberapa oknum, strategi majalah Bobo dalam menawarkan seri khusus itu nampaknya berhasil. Ini bisa dilihat dari animo masyarakat yang tinggi, khususnya yang merasa nostalgia dengan majalah anak-anak itu. Hingga kini, majalah Bobo masih sanggup mempertahankan eksistensinya di tengah maraknya perkembangan dunia digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....