Quiet Quitting: Tren Kerja Baru yang Dipilih Generasi Z

  • 04 Agt 2026 17:35 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting menjadi perbincangan di dunia kerja, terutama di kalangan Generasi Z. Meski terdengar seperti mengundurkan diri secara diam-diam, quiet quitting sebenarnya bukan berarti berhenti bekerja. Istilah ini menggambarkan sikap karyawan yang memilih mengerjakan tugas sesuai deskripsi pekerjaan tanpa mengambil beban tambahan di luar tanggung jawabnya.

Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja yang sering mengagungkan lembur, selalu siap dihubungi, dan menganggap produktivitas sebagai ukuran utama keberhasilan. Banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah bekerja tanpa batas benar-benar sepadan dengan kesehatan fisik, mental, dan kehidupan pribadi mereka.

Mengutip dari s2verify, bagi Generasi Z, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) menjadi salah satu prioritas. Mereka lebih sadar akan pentingnya waktu istirahat, kesehatan mental, dan hubungan sosial. Karena itu, mereka cenderung menetapkan batas yang jelas antara jam kerja dan waktu pribadi. Menolak membalas pesan kantor di luar jam kerja atau tidak mengambil tugas tambahan tanpa kompensasi bukan dianggap sebagai kemalasan, melainkan bentuk menjaga kesejahteraan diri.

Di sisi lain, tidak sedikit perusahaan yang memandang quiet quitting sebagai tanda menurunnya motivasi dan loyalitas karyawan. Jika banyak pekerja hanya melakukan pekerjaan minimum, produktivitas tim dan inovasi dikhawatirkan ikut menurun. Perbedaan sudut pandang inilah yang sering memicu perdebatan antara generasi pekerja lama dan generasi yang baru memasuki dunia kerja.

Namun, fenomena ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Karyawan yang merasa dihargai, mendapatkan kesempatan berkembang, memiliki beban kerja yang wajar, serta memperoleh penghargaan yang sesuai umumnya akan lebih termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik.

Quiet quitting bukan sekadar tren yang muncul di media sosial. Fenomena ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap dunia kerja. Bagi banyak Generasi Z, bekerja bukan lagi tentang mengorbankan seluruh waktu dan energi demi karier, tetapi tentang membangun kehidupan yang seimbang, produktif, dan tetap menjaga kesehatan mental. Tantangan bagi perusahaan adalah menemukan titik temu antara kebutuhan bisnis dan kesejahteraan karyawan agar keduanya dapat tumbuh bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....