Apakah Media Sosial Mendorong Main Character Syndrome?

  • 30 Jun 2026 09:42 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Di era media sosial, hampir setiap orang memiliki ruang untuk membagikan cerita, pencapaian, hingga aktivitas sehari-hari. Dari foto liburan, rutinitas pagi, hingga video singkat dengan musik sinematik, semua dapat dikemas layaknya adegan dalam sebuah film. Tidak heran jika muncul istilah Main Character Syndrome, yaitu kecenderungan seseorang merasa dirinya adalah tokoh utama dalam setiap situasi.

Sebenarnya, melihat diri sebagai tokoh utama dalam hidup bukanlah hal yang salah. Justru, hal itu dapat meningkatkan rasa percaya diri, membantu seseorang lebih menghargai dirinya, dan mendorong untuk mencapai tujuan hidup. Namun, masalah muncul ketika seseorang mulai merasa bahwa perhatian, pendapat, atau kebutuhannya lebih penting daripada orang lain.

Melansir dari Alodokter, Media sosial menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat fenomena ini. Algoritma yang menampilkan konten berdasarkan interaksi membuat pengguna terbiasa menjadi pusat perhatian melalui jumlah likes, komentar, dan views. Lambat laun, validasi dari orang lain bisa terasa sama pentingnya dengan pengalaman itu sendiri.

Selain itu, tren seperti membuat vlog harian, konten "day in my life", atau video estetik sering kali menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Hal ini dapat membuat seseorang tanpa sadar lebih fokus membangun citra diri di dunia digital daripada menikmati momen secara langsung.

Meski begitu, media sosial bukanlah penyebab utama Main Character Syndrome. Cara seseorang menggunakan media sosial dan mengelola ekspektasi terhadap dirinya jauh lebih menentukan. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi tempat berbagi inspirasi, belajar, dan membangun koneksi tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

Pada akhirnya, setiap orang memang merupakan "tokoh utama" dalam kehidupannya masing-masing. Namun, kehidupan nyata bukan hanya tentang diri sendiri. Ada keluarga, teman, rekan kerja, dan banyak orang lain yang juga memiliki cerita dan peran penting. Menjaga empati serta menghargai sudut pandang orang lain adalah kunci agar kepercayaan diri tidak berubah menjadi sikap yang terlalu berpusat pada diri sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....