Healing: Kebutuhan Emosional atau Gaya Hidup Modern?
- 29 Mei 2026 06:03 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Belakangan ini, kata healing menjadi sangat populer di media sosial. Sedikit lelah karena tugas kuliah, pekerjaan, atau masalah pribadi, banyak orang langsung berkata, “Aku butuh healing.” Bentuknya pun beragam, mulai dari pergi ke pantai, staycation di hotel, nongkrong di kafe estetik, hingga bepergian ke luar kota demi mencari suasana baru.
Fenomena ini membuat liburan bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga dianggap sebagai cara untuk menjaga kesehatan mental. Namun, muncul pertanyaan: apakah semua kegiatan healing benar-benar membantu memulihkan diri, atau justru hanya menjadi pelarian sementara dari masalah?
| Baca juga: Media Sosial dan Gaya Hidup Ramah Lingkungan |
Dikutip dari Halodoc, Pada dasarnya healing memang penting. Setiap orang membutuhkan waktu untuk beristirahat dari tekanan hidup sehari-hari. Rutinitas yang padat dapat membuat seseorang merasa jenuh, stres, bahkan kehilangan semangat. Dengan berlibur atau menikmati waktu santai, pikiran bisa menjadi lebih tenang dan tubuh terasa lebih rileks. Tidak heran jika banyak orang merasa lebih segar setelah menghabiskan waktu di alam atau berkumpul bersama orang-orang terdekat.
Namun, tidak sedikit pula yang menjadikan healing hanya sebagai pelarian sesaat. Masalah yang sebenarnya belum selesai justru ditinggalkan begitu saja. Misalnya, seseorang merasa stres karena tugas menumpuk, tetapi memilih terus bepergian tanpa mengatur tanggung jawabnya. Ada juga yang memaksakan diri liburan demi mengikuti tren media sosial agar terlihat bahagia dan produktif.
Ironisnya, healing yang dipaksakan terkadang justru menambah beban baru. Demi mendapatkan foto estetik atau pengalaman yang terlihat menyenangkan di internet, seseorang rela menghabiskan banyak uang. Setelah liburan selesai, muncul rasa cemas karena kondisi keuangan menurun atau pekerjaan semakin menumpuk. Akibatnya, rasa tenang yang dicari hanya bertahan sementara.
Healing yang sehat seharusnya membantu seseorang memahami dirinya sendiri, bukan sekadar menghindari kenyataan. Liburan memang bisa menjadi jeda untuk menenangkan pikiran, tetapi tetap perlu diimbangi dengan kemampuan menghadapi masalah. Sebab, sejauh apa pun seseorang pergi, persoalan hidup tidak akan selesai jika terus dihindari.
Pada akhirnya, healing bukan tentang seberapa jauh kita bepergian atau seberapa estetik tempat yang dikunjungi. Healing adalah tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, memperbaiki keadaan, dan kembali menjalani hidup dengan lebih baik. Jadi, sebelum berkata “aku butuh healing,” mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu: apakah ini benar-benar untuk memulihkan diri, atau hanya pelarian sementara?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....