Flexing dan Krisis Identitas Anak Muda di Era Modern

  • 15 Apr 2026 11:54 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Di era sekarang, media sosial bukan Cuma tempat berbagi cerita, tapi juga sudah jadi tempat untuk "menunjukkan diri". Hampir setiap hari kita melihat orang memposting tentang liburan, barang baru, makanan mahal, atau gaya hidup yang terlihat mewah. Sekilas mungkin terlihat biasa saja, tapi lama-lama hal ini memunculkan fenomena yang sering disebut sebagai "flexing".

Flexing sendiri bisa dipahami sebagai kebiasaan memamerkan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan kekayaan atau gaya hidup. Di platform seperti TikTok dan Instagram, konten seperti ini sangat mudah ditemukan dan bahkan sering kali menjadi viral. Banyak orang tertarik menonton karena dianggap menarik atau menghibur.

Fenomena flexing ini punya pengaruh yang cukup besar, terutama bagi generasi muda. Tanpa disadari, kita jadi sering membandingkan diri dengan apa yang kita lihat di media sosial. Misalnya, ketika melihat orang lain liburan ke tempat bagus atau membeli barang mahal, muncul perasaan ingin memiliki hal yang sama, walaupun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Fenomena flexing juga memicu tekanan sosial yang cukup besar. Banyak anak muda merasa harus mengikuti standar gaya hidup yang ditampilkan di media sosial, meskipun tidak sesuai dengan kondisi ekonomi mereka. Hal ini dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti rasa cemas, rendah diri, hingga perilaku konsumtif yang berlebihan demi mempertahankan citra diri. Jika dibiarkan, kesehatan mental serta kestabilan finansial individu.

Daripada menjadikan flexing sebagai tolak ukur, sudah seharusnya generasi muda mulai mengalihkan perhatian pada hal-hal yang bernilai, seperti pengembangan diri, kreativitas, serta kontribusi positif bagi masyarakat. Media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk berbagi inspirasi dan pengetahuan, bukan hanya sebagai alat untuk menunjukkan status sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....