"Lebaran Ketupat" Tradisi Syukur dan Kebersamaan usai Idulfitri
- 29 Mar 2026 12:41 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Lebaran Ketupat menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Muslim di Indonesia yang dirayakan sekitar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini tidak hanya identik dengan sajian kuliner, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam.
Ketupat, makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda, dipercaya memiliki simbol khusus. Dalam budaya Jawa, kata “ketupat” sering diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Hal ini menjadikan Lebaran Ketupat sebagai momentum untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama.
Selain itu, anyaman janur pada ketupat melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi beras putih mencerminkan hati yang bersih setelah saling bermaafan. Tradisi ini memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Di berbagai daerah, Lebaran Ketupat juga dirayakan dengan kegiatan doa bersama dan makan bersama keluarga maupun tetangga. Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi yang mungkin belum sempat terjalin saat Idulfitri.
Sejumlah tokoh masyarakat menyebutkan bahwa Lebaran Ketupat juga berkaitan dengan anjuran menjalankan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Setelah menunaikan puasa tersebut, umat Muslim merayakannya sebagai bentuk rasa syukur.
Selain memiliki nilai budaya, Lebaran Ketupat juga diyakini sebagai bentuk pelengkap ibadah setelah menjalankan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga memiliki nilai religius yang kuat.
Dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi tradisi kuliner, tetapi juga sarana memperkuat hubungan sosial dan spiritual. Tradisi ini diharapkan terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....