Survei : Anak Muda Indonesia Pesimis Dengan Negaranya

  • 23 Jan 2025 09:21 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak : Survei terbaru ISEAS-Yusof Ishak Institute menyebut, anak muda di Indonesia paling pesimistis terhadap situasi politik dan ekonomi di negaranya dibanding anak muda dari negara ASEAN lainnya.

Melansir ISEAS Publishing, dalam survey bertajuk "Youth and Civic Engagement in Southeast Asia: A Survey of Undergraduates in Six Countries", sebanyak 53,9% responden merasa situasi politik di Indonesia buruk. Ini merupakan tingkat ketidakpuasan yang paling tinggi di antara enam negara yang disurvei.

Survei ini dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2024, terhadap 3.081 mahasiswa berusia 18-24 tahun di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina untuk mengetahui bagaimana persepsi kaum muda terhadap situasi di negara mereka.

Survei tersebut menargetkan mahasiswa karena aktivisme anak muda di kampus-kampus telah berkembang dan berperan penting dalam perubahan rezim. ISEAS melakukan survei untuk memetakan perilaku dan keterlibatan anak muda di negara-negara Asia Tenggara.

Sebanyak 33,1% anak muda Indonesia juga merasa sangat pesimistis dengan visi perkembangan ekonomi pemerintah. Angka ketidakpuasan ini juga paling tinggi dibandingkan negara-negara lainnnya, walaupun masih ada enam dari 10 anak muda Indonesia yang mengaku cukup optimistis dalam hal tersebut.

Lalu Apa yang paling dikhawatirkan anak muda Indonesia? Sebanyak 97% anak muda Indonesia yang disurvei mengaku khawatir dengan masalah pengangguran dan resesi ekonomi. Selain itu, mereka juga punya kekhawatiran yang tinggi terhadap meluasnya ketimpangan ekonomi dan disparitas penghasilan.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 mencatat bahwa hampir 10 juta penduduk Indonesia generasi Z berusia 15-24 tahun menganggur atau tanpa kegiatan. Sebanyak 369.500 orang berusia 15-29 tahun juga putus asa mencari pekerjaan (hopeless of job).

Pemecatan hubungan kerja (PHK) juga masif terjadi. Tahun lalu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ada 80.000 orang yang terkena PHK.Bahkan tekanan ekonomi juga terlihat dari data lainnya yang menunjukkan penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Secara kesuluruhan, survei ini menunjukkan bahwa negara-negara yang tidak mengalami perubahan sistem politik dengan pertumbuhan ekonomi yang mapan mendorong optimisme yang lebih besar di kalangan anak mudanya. Sebaliknya, negara yang mengalami gejolak politik dan ekonomi seperti Indonesia membuat anak-anak mudanya lebih skeptis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....