BMKG: Juni 2026 Jadi Salah Satu Juni Terkering dalam 30 Tahun Terakhir

  • 17 Jul 2026 15:05 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa bulan Juni 2026 tercatat sebagai salah satu bulan Juni dengan curah hujan terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir di Indonesia.

"Data pengamatan menunjukkan Juni tahun ini menjadi salah satu Juni dengan curah hujan terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir," tulis BMKG melalui unggahan resmi di akun Instagram pada Rabu, 15 Juli 2026.

Berdasarkan catatan BMKG, curah hujan rata-rata nasional pada Juni 2026 tercatat sebesar 153 milimeter. Angka tersebut menempatkan Juni 2026 di peringkat kedelapan sebagai bulan Juni dengan curah hujan terendah sejak tahun 1991.

Sebagai perbandingan, BMKG mencatat Juni terkering sepanjang sejarah pengamatan terjadi pada tahun 1997, dengan curah hujan rata-rata nasional hanya 66 milimeter. Kondisi ekstrem kala itu dipicu oleh fenomena El Nino kuat yang membuat musim kemarau semakin kering.

Berikut daftar delapan bulan Juni terkering dalam 35 tahun terakhir beserta rata-rata curah hujan bulanannya:

  • Tahun 1997: 66 milimeter
  • Tahun 1991: 108 milimeter
  • Tahun 2004: 118 milimeter
  • Tahun 2003: 121 milimeter
  • Tahun 2015: 148 milimeter
  • Tahun 2009: 151 milimeter
  • Tahun 1992: 152 milimeter
  • Tahun 2026: 153 milimeter

BMKG menjelaskan, kondisi kering yang terjadi pada Juni 2026 ini menjadi indikasi awal meningkatnya risiko kekeringan akibat fenomena El Nino yang tengah berlangsung tahun ini.

Selain itu, musim kemarau di Indonesia juga terpantau semakin dominan dan mulai memasuki periode puncaknya di berbagai wilayah. BMKG mencatat sebanyak 432 Zona Musim, atau setara 60,5 persen wilayah Indonesia, telah memasuki musim kemarau pada dasarian pertama Juli 2026.

Untuk periode dasarian kedua Juli 2026, BMKG memprakirakan sekitar 91,45 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah, sementara 8,52 persen wilayah berada pada kategori menengah, dan hanya sekitar 0,03 persen wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi.

Wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.

Masyarakat diimbau untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau, seperti krisis air bersih dan potensi kebakaran lahan, seiring meningkatnya risiko kekeringan di berbagai daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....