Melukis Dunia Cinta

  • 11 Jun 2026 20:05 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Ada sebuah dongeng tentang seorang anak yang terjatuh ke dalam lubang kelinci, lalu mendapati dirinya berada di dunia yang sama sekali asing, dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dialah Alice, dalam kisah Alice in Wonderland, yang dahulu sering kutonton semasa kecil.

Ada pula cerita tentang sekelompok anak muda dari Inggris yang tanpa sengaja memasuki sebuah lemari tua, dan seketika mendapati diri mereka berada di negeri lain yang penuh keajaiban. Di sana, mereka bertemu dengan seekor singa yang mampu berbicara layaknya manusia. Itulah kisah The Chronicles of Narnia.

Keduanya mengisahkan satu hal yang sama: tentang terbukanya sebuah dunia baru, yang menghadirkan petualangan tak terduga. Di dunia itulah, mereka menorehkan kisah, menghadapi ujian, dan mengukir jejak kepahlawanan. Apakah mereka menikmatinya? Barangkali iya. Sebab pada akhirnya, kisah-kisah itu selalu bermuara pada kebahagiaan.

Berbicara tentang “dunia baru”, kita pun sering mendengar ungkapan bijak: “You are what you think” dan “Siapa yang menabur, dialah yang menuai.” Dua kalimat ini mengandung makna yang dalam—bahwa setiap manusia sejatinya sedang “mencipta dunia” bagi dirinya sendiri.

Jika seseorang memilih untuk berpikir baik, menanam kebaikan, dan memelihara prasangka yang indah, maka dunia yang ia rasakan pun akan dipenuhi oleh kebaikan. Sebaliknya, jika yang ditanam adalah keburukan, maka itulah yang akan tumbuh dan ia rasakan dalam hidupnya.

Suatu hari, seorang bapak bercerita kepadaku tentang perjalanan hidupnya. Usianya telah senja, namun wajahnya menyiratkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Banyak orang menganggapnya sebagai sosok yang beruntung.

Sepanjang hidupnya, bapak hampir tak pernah tersentuh sakit yang berat. Rumah tangganya tenteram, dan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik serta menjadi teladan di lingkungan mereka.

Lalu aku bertanya, apa rahasia hidupnya? Dengan sederhana bapak menjawab, “Hiduplah dengan penuh rasa syukur.”

Bapak melanjutkan, “Sayangi keluarga, bantu orang lain semampunya, permudah urusan sesama, saling menghargai, dan jangan pernah sombong.”

Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun dari situlah tampak sebuah kehidupan yang penuh berkah telah dibangun. Apa yang ia tanam, itulah yang ia tuai. Sepanjang hidupnya, ia dikelilingi oleh orang-orang baik—sebagaimana dirinya telah lebih dahulu berbuat baik kepada mereka.

Hal yang sama terjadi pada anak-anaknya. Saat mereka merantau jauh untuk menuntut ilmu, mereka pun dipertemukan dengan orang-orang yang tulus, yang membantu dan membimbing mereka hingga menyelesaikan pendidikan dengan penuh tanggung jawab.

“Subhanallah…” lirihku dalam hati. Dari kisah itu, aku semakin memahami bahwa setiap manusia sedang melukis dunianya sendiri.

Jika kita ingin hidup dalam semesta yang penuh cinta dan harmoni, maka tanamlah benih-benih kebaikan. Sebab hanya dari benih itulah akan tumbuh pohon yang berbuah manis. Namun jika yang ditanam adalah kezaliman, maka jangan heran jika yang dipanen adalah kegelisahan dan luka.

Hidup memang tentang pilihan. Dan saran sederhana dariku: pilihlah dunia cinta dan kebaikan. Sebab di situlah fitrah manusia menemukan rumahnya. Dan hanya dengan itulah, kebahagiaan sejati dapat digapai.

Oleh: La Ode Mu’jizat, S.Kep., Ns.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....