Semua Anak, Anak Kita

  • 11 Jun 2026 20:09 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Masih terngiang sebuah kisah beberapa tahun lalu. Seorang bocah datang ke rumah kami, membawa kesedihannya. Anak itu terluka oleh kawan-kawan sepermainannya.

Dengan suara lirih, disertai isak tangis, bocah itu mengadu kepada istriku, seolah sedang berbicara kepada ibu kandungnya sendiri. Entah sudah berapa kali bocah itu datang, menumpahkan duka yang sama. Dan seperti biasa, pintu rumah kami selalu terbuka untuknya.

Mungkin… perceraian kedua orang tuanya menyisakan ruang kosong dalam jiwanya. Ada jarak. Ada sekat. Ada luka yang belum sembuh. Sehingga anak itu tak menemukan tempat untuk berkeluh kesah di rumahnya sendiri. Dan rumah kami… menjadi salah satu tempat pelariannya.

Setiap kali anak itu datang, istriku selalu menyiapkan ruang yang tak kasat mata, namun sangat terasa: ruang psikologis yang nyaman. Istriku mendengar, tanpa menghakimi. Istriku merangkul, tanpa syarat. Dia memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Perlahan… jiwa yang nelangsa itu dibasuh, lukanya dirawat, hingga cahaya kembali hadir di wajahnya. Dan senyumnya pun kembali.

Aku sering mendengar percakapan mereka dari balik dinding kamar. Dan aku mengerti… karena aku pun pernah berada di posisi yang sama.

Kita semua tahu, apa yang terjadi ketika anak-anak tidak menemukan ruang yang aman untuk tumbuh. Ketika rumah tak lagi nyaman, dan lingkungan tak lagi bersahabat, maka mereka akan mencari “rumah” lain.

Sayangnya, tak semua “rumah” itu baik. Sebagian dari mereka menemukan ruang di dunia yang kelam—narkoba, kekerasan, dan pergaulan bebas. Di sana mereka diterima, disambut, bahkan “diperhatikan”. Ironisnya, tanpa sadar mereka sedang dijerat.

Dari kisah sederhana ini, aku semakin yakin pada satu kalimat: “Semua anak adalah anak kita.” Karena ketika kita mau peduli pada anak orang lain, memberi ruang bagi luka mereka,

menjadi tempat mereka bersandar—sejatinya kita sedang membangun lingkungan yang sehat. Dan lingkungan yang baik itulah yang kelak akan menjaga anak-anak kita sendiri.

Maka… jangan pernah ragu untuk menjadi “rumah” bagi anak-anak yang kehilangan arah. Sebab bisa jadi, bukan nasihat panjang yang mereka butuhkan, melainkan satu pelukan,

satu telinga yang mau mendengar, dan satu hati yang benar-benar peduli.

Oleh: La Ode Mu’jizat, S.Kep., Ns.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....