RRI.CO.ID, Baubau - Seingatku, saat itu Faiz bahkan belum masuk sekolah dasar. Suatu hari, Faiz menaburkan gula di sekitar sarang semut. Aku pun bertanya, “Kenapa menabur gula di situ?”
Dengan polos Faiz menjawab,
“Kasih makan semut.”
Di kesempatan lain, Faiz kembali melakukan hal yang sama, menyebarkan remah-remah makanan ringan di jalur semut yang berbaris di lantai. Alasannya tetap sederhana: Faiz ingin berbagi.
Dari peristiwa kecil itu, muncul sebuah pertanyaan dalam benakku: apakah semut-semut itu akan mengingat kebaikan seorang anak kecil yang pernah memberi mereka makan?
Pertanyaan itu seakan menemukan jawabannya dari sebuah kisah lain. Ada seorang bapak yang lama terbaring lemah di rumah sakit. Hari-harinya sunyi, tanpa kunjungan sanak saudara, tanpa kehadiran sahabat.
Hingga suatu hari, seekor merpati datang. Merpati hinggap perlahan di tubuh renta sang bapak, seakan membawa pesan yang tak terucap. Ternyata, merpati itu bukanlah burung asing.
Merpati itu adalah makhluk yang dahulu sering diberi makan oleh sang bapak, setiap kali merpati itu berkunjung ke sebuah taman.
Ada sesuatu yang terhubung di sana, sebuah komunikasi yang tak terlihat oleh mata, namun terasa oleh hati. Jalinan kasih antara dua makhluk berbeda: manusia dan hewan.
Ikatan yang terbangun bukan oleh kata-kata, melainkan oleh cinta, kepedulian, dan keikhlasan dalam memberi.
Inilah bahasa cinta. Bahasa yang tidak memerlukan suara, namun dipahami oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya. Bukan hanya manusia, tetapi juga hewan, bahkan tumbuhan.
Barangkali itulah sebabnya, sejak dahulu kita diajarkan untuk berbuat baik, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi kepada seluruh makhluk yang hidup di semesta ini. Sebab dari sanalah harmoni tercipta. Dan harmoni itu adalah bagian dari rahmat Allah yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan.
Namun, sebagaimana kebaikan melahirkan balasan yang indah, keburukan pun menghadirkan akibat yang tak terhindarkan. Jika kebaikan berbuah reward, maka keburukan pun membawa punishment. Dan seringkali, keduanya tidak menunggu akhirat, telah Allah tampakkan di dunia.
Maka jangan heran, jika di waktu-waktu tertentu, alam seakan tidak lagi bersahabat dengan manusia. Bencana datang silih berganti. Keseimbangan terganggu. Kehidupan terasa semakin rapuh.
Bisa jadi, itu bukan semata peristiwa alam, melainkan peringatan. Sebab manusia mulai lupa pada bahasa cinta. Hak-hak makhluk lain diabaikan. Alam dirusak, dirampas, dan dieksploitasi dengan penuh kezaliman.
Dan semesta… mengingat semuanya. Semesta merekam setiap perlakuan. Semesta menyimpan setiap luka. Hingga pada saatnya, semesta “berbicara”, bukan dengan kata, tetapi dengan peristiwa.
Maka, sebelum semesta menegur dengan cara yang lebih keras, marilah kita kembali belajar pada seorang anak kecil, yang dengan tulus menaburkan gula untuk semut. Karena bisa jadi, dari kebaikan-kebaikan kecil itulah Allah menjaga kita, dan semesta tetap bersahabat dengan kita.
Oleh: La Ode Mu’jizat, S.Kep., Ns.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....