Inovasi Mesin Pemipil Jagung Berbasis K3 Tingkatkan Produksi Petani Desa Lakabu

  • 16 Agt 2026 22:13 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Muna Barat – Musim panen jagung menjadi masa yang menggembirakan sekaligus melelahkan bagi petani di Desa Lakabu, Kecamatan Tiworo Tengah, Kabupaten Muna Barat.

Selama bertahun-tahun, anggota Kelompok Tani Jagung Samaenre harus memipil jagung secara manual menggunakan tangan atau memukul tongkol jagung dengan benda tumpul seperti besi dan kayu.

Dengan rata-rata hasil panen mencapai sekitar satu ton per petani, cara tersebut dinilai tidak efisien. Proses pemipilan manual hanya mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 50 kilogram per jam, dengan tingkat kerusakan biji mencapai 10 hingga 15 persen.

Kondisi itu tak jarang membuat jagung hasil panen menumpuk, terutama saat musim panen berlangsung serentak. Jagung yang terlalu lama tersimpan dalam kondisi lembap berisiko mengalami kerusakan dan berjamur sehingga berdampak pada harga jual.

“Kalau musim panen ramai, jagung menumpuk, lembap, lalu berjamur. Itu yang bikin harga jual turun,” ungkap Ketua Kelompok Tani Samaenre, Kaharuddin, Minggu, 16 Agustus 2026.

Menjawab persoalan tersebut, tim akademisi menghadirkan inovasi mesin pemipil jagung berbasis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Inovasi Mesin Pemipil Jagung Berbasis K3 untuk Meningkatkan Produktivitas dan Keselamatan Kerja Petani di Desa Lakabu.”

Program pemberdayaan tersebut didukung pendanaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMDIKTISAINTEK) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) serta Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM).

Bantuan tersebut disalurkan melalui platform BIMA (DRTPM) tahun pendanaan 2026, melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) dengan ruang lingkup Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP).

Ketua Tim Pelaksana, Fajirin Alamsyah, mengatakan inovasi yang dikembangkan tidak hanya mengejar peningkatan kecepatan produksi, tetapi juga memastikan keselamatan petani selama proses pemipilan.

“Fokus utama kami bukan sekadar membuat mesin pemipil yang cepat, tetapi menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi petani,” ujar Fajirin.

Menurutnya, aspek K3 selama ini masih kerap terabaikan karena petani berupaya mengejar target panen.

“Seringkali para petani kita mengabaikan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) karena terburu-buru mengejar target panen. Melalui mesin yang kami rancang ini, kami ingin membuktikan bahwa produktivitas yang tinggi bisa dicapai beriringan dengan keselamatan yang terjamin,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan program tersebut, Fajirin didampingi dua anggota tim, yakni Roi Kasturi dan Samsinar. Program ini juga melibatkan empat mahasiswa dari Program Studi Teknik Sipil dan Administrasi Kesehatan ITBK Muhammadiyah Muna Barat.

Para mahasiswa turut terlibat dalam pendampingan pelatihan, dokumentasi kegiatan hingga survei lapangan.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi salah satu kekuatan program. Mahasiswa Teknik Sipil berperan memastikan konstruksi mesin kokoh dan ergonomis, sekaligus memastikan pelindung mesin atau cover tersedia secara memadai.

Sementara mahasiswa Administrasi Kesehatan memberikan edukasi mengenai penerapan standar K3 di sektor pertanian, termasuk teknik mengangkat beban yang benar serta menjaga postur tubuh untuk mencegah cedera otot dan tulang belakang (musculoskeletal disorders).

Antusiasme Kelompok Tani Jagung Samaenre terhadap inovasi tersebut cukup tinggi. Sosialisasi program, pelatihan K3, pelatihan pengoperasian mesin hingga proses pembuatan dan perakitan mesin pemipil jagung telah rampung dilaksanakan bersama para mahasiswa.

Tahap berikutnya adalah implementasi mesin secara langsung di lapangan. Pelaksanaan tersebut akan disertai pendampingan dan evaluasi berkala untuk mengukur produktivitas, kualitas hasil pipilan serta kepatuhan petani terhadap prosedur K3.

Fajirin menargetkan penggunaan mesin tersebut mampu menekan tingkat kerusakan biji jagung hingga di bawah lima persen. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan tingkat kerusakan sebelumnya yang mencapai 10 hingga 15 persen akibat proses pemipilan manual.

“Kalau kualitas biji bagus dan seragam, harga jualnya otomatis naik. Petani tidak lagi cuma jadi penerima harga dari pengepul,” tegasnya.

Ia menambahkan, program tersebut merupakan bentuk nyata pemanfaatan dukungan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat desa.

“Program dari KEMDIKTISAINTEK melalui skema PMP ini benar-benar kami maksimalkan untuk menyentuh akar permasalahan di masyarakat desa,” ujarnya.

Program tersebut juga dinilai sejalan dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan, termasuk Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan dan penciptaan pekerjaan layak, serta visi Asta Cita dalam penguatan sektor pangan dan produktivitas sumber daya manusia.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat Desa Lakabu tersebut menjadi bukti bahwa inovasi dan riset akademik dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi petani dengan tetap mengedepankan keselamatan kerja.

Bagi Kaharuddin, kehadiran mesin pemipil jagung tersebut menjadi harapan baru bagi para petani di desanya.

“Kalau memipil bisa lebih cepat dan lebih aman, kami bisa jual jagung tepat waktu, tidak menumpuk lagi. Itu yang paling kami tunggu,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....