PKK Boneatiro Didorong Kembangkan Ikan Katowo lewat Digitalisasi dan Inovasi
- 20 Agt 2026 06:25 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Buton - Potensi hasil perikanan lokal di Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, terus didorong agar tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan tim dosen Universitas Muslim Buton melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Hibah Kemendiktisaintek Tahun 2026, dengan mengusung skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok PKK Boneatiro melalui Digitalisasi dan Inovasi Kemasan Produk Lokal Ikan Katowo” tersebut menyasar Kelompok PKK Boneatiro yang beranggotakan 13 orang.
Tim pelaksana kegiatan ini terdiri atas Yusman Sutoyo sebagai ketua, bersama anggota Mardiana, Veni Rosnawati, Ledy Diana, dan Lilis Alfiani.
Yusman Sutoyo mengatakan, Ikan Katowo menjadi fokus utama program karena merupakan salah satu pangan lokal masyarakat Boneatiro yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Produk tersebut berupa ikan asap berbahan dasar ikan pari yang selama ini masih banyak diolah menggunakan peralatan manual dan dipasarkan secara konvensional.
Kondisi tersebut dinilai membuat proses produksi maupun pemasaran belum optimal. Selain kemasan yang belum sepenuhnya mampu meningkatkan daya tarik konsumen, pencatatan biaya produksi dan hasil penjualan juga belum dilakukan secara sistematis.
“Melalui program PkM ini, kelompok PKK diberikan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produksi sekaligus mengembangkan strategi pemasaran agar ikan Katowo memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,”jelasnya, Rabu 19 Agustus 2026.

Akademisi ini menjelaskan, pelaksanaan program dilakukan secara bertahap melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi hingga penguatan keberlanjutan usaha.
Dalam pelatihan, anggota PKK mendapatkan pembekalan mengenai pengolahan ikan Katowo secara lebih terstruktur, mulai dari kebersihan, mutu produk, teknik pengasapan, penirisan, penimbangan, penyimpanan hingga pengemasan dan pemasaran.
“Kami juga memperkenalkan sejumlah teknologi tepat guna, seperti oven asap tungku, rak pengasapan, rak peniris, timbangan digital, freezer box dan mesin vacuum sealer, penggunaan peralatan tersebut diharapkan membuat proses produksi menjadi lebih terukur dan higienis. Timbangan digital, misalnya, membantu menjaga konsistensi berat produk, sementara vacuum sealer digunakan untuk menghasilkan kemasan yang lebih rapi dan terlindungi,”tambahnya.
Selain teknologi produksi, inovasi kemasan dan branding turut menjadi perhatian. Kelompok diberikan pemahaman mengenai pentingnya kemasan higienis, teknik pengemasan vakum, label serta identitas produk.Identitas tersebut diharapkan dapat memperkuat citra ikan Katowo sebagai produk lokal Boneatiro sekaligus meningkatkan daya tariknya di mata konsumen.
Penguatan manajemen usaha juga dilakukan melalui pelatihan pencatatan bahan baku, biaya produksi, hasil penjualan, arus kas dan keuntungan. Dengan pencatatan sederhana tersebut, kelompok diharapkan mampu mengetahui perkembangan usaha secara lebih terukur.

Tidak kalah penting, anggota PKK mulai diperkenalkan dengan pemasaran digital melalui media sosial, khususnya Facebook. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu produk ikan Katowo menembus pasar yang lebih luas, tidak hanya di sekitar Boneatiro.
Yusman menilai, pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya perkembangan pemahaman dan keterampilan anggota kelompok. Mereka mulai memahami bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan bahan baku, tetapi juga proses pengolahan, kebersihan, penanganan setelah pengasapan, penimbangan, penyimpanan dan pengemasan.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat peran perempuan dalam pemanfaatan potensi ekonomi lokal. Melalui Kelompok PKK, perempuan di Desa Boneatiro didorong menjadi pelaku usaha yang mampu mengolah, mengemas, memasarkan hingga mengembangkan produk lokal.
Ke depan, pendampingan akan difokuskan pada penyempurnaan kemasan dan branding, penguatan pencatatan usaha, pengembangan pemasaran online dan offline, serta evaluasi perkembangan usaha dan pendapatan keluarga.
Dalam program ini terdapat sejumlah target pengembangan, di antaranya peningkatan kapasitas produksi dari sekitar 10 kilogram per hari menjadi 25–30 kilogram per hari, pengembangan minimal tiga inovasi produk, peningkatan harga jual sekitar 50–70 persen, serta peningkatan kemampuan kelompok dalam pemasaran digital.
Yusman menegaskan, angka tersebut merupakan target program dan belum menjadi angka realisasi sebelum dilakukan pengukuran lapangan secara menyeluruh pada tahap evaluasi berikutnya.
“Melalui kolaborasi perguruan tinggi, kelompok masyarakat, pemerintah desa dan dukungan pendanaan Kemendiktisaintek, pengembangan ikan Katowo diharapkan menjadi langkah awal menuju usaha kelompok yang lebih mandiri dan berkelanjutan,”pungkasnya.
Dengan inovasi dan pendampingan yang berkelanjutan, Yusan berharap, ikan Katowo tidak hanya menjadi hasil perikanan masyarakat Boneatiro, tetapi berkembang menjadi produk bernilai ekonomi yang mampu mendukung pendapatan keluarga dan menjadi salah satu produk unggulan desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....