Kenapa Netizen Sekarang Suka Oversharing di Media Sosial?

  • 30 Sep 2026 15:02 WIB
  •  Batam


RRI.CO.ID, Batam - Media sosial membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin mudah dibagikan. Makan apa, sedang di mana, bertemu siapa, sampai cerita soal hubungan pribadi, semuanya bisa muncul dalam unggahan hanya dalam beberapa detik.

Fenomena ini kemudian memunculkan istilah oversharing, yaitu kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada publik atau orang yang sebenarnya tidak terlalu dekat.

Lantas, kenapa semakin banyak orang melakukannya?

Media sosial membuat berbagi terasa normal

Dulu, cerita pribadi biasanya hanya dibagikan kepada teman dekat atau keluarga. Sekarang, satu unggahan bisa langsung dilihat oleh banyak orang.

Fitur seperti story, video pendek dan kolom komentar juga membuat berbagi kehidupan sehari-hari terasa seperti bagian dari rutinitas. Lama-kelamaan, batas antara cerita pribadi dan konsumsi publik bisa menjadi semakin tipis.

Ingin didengar dan mendapat respons

Tidak semua orang yang melakukan oversharing sengaja mencari perhatian. Bisa saja mereka memang sedang membutuhkan tempat untuk bercerita.

Ketika sebuah unggahan mendapat komentar, tanda suka atau pesan dari orang lain, muncul perasaan bahwa cerita tersebut didengar dan mendapat respons.

Bagi sebagian orang, media sosial akhirnya terasa seperti ruang untuk mendapatkan dukungan sosial.

Takut ketinggalan tren

Media sosial juga memiliki tren tersendiri. Ketika banyak orang membagikan pengalaman pribadi, pengguna lain bisa terdorong melakukan hal yang sama.

Cerita tentang hubungan, pekerjaan, perjalanan, kehidupan keluarga hingga masalah sehari-hari kemudian menjadi bagian dari konten yang dianggap menarik.

Batas privasi bisa berubah

Hal yang menarik adalah batas mengenai apa yang dianggap pribadi berbeda pada setiap orang.

Bagi seseorang, mengunggah foto makanan mungkin hal biasa. Bagi orang lain, membagikan lokasi, masalah hubungan atau kondisi keluarga sudah dianggap terlalu pribadi.

Karena itu, oversharing sebenarnya tidak memiliki batas yang sama bagi semua orang.

Ada baiknya berpikir sebelum mengunggah

Media sosial memang menjadi tempat untuk berekspresi, tetapi apa yang sudah diunggah belum tentu mudah ditarik kembali.

Sebelum membagikan sesuatu, seseorang bisa bertanya sederhana kepada dirinya sendiri: apakah informasi ini memang perlu diketahui banyak orang? Apakah saya tetap nyaman jika unggahan ini dilihat oleh orang yang tidak terlalu dekat?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu menentukan mana cerita yang cukup disimpan untuk diri sendiri dan mana yang memang layak dibagikan.

Pada akhirnya, berbagi cerita di media sosial bukan sesuatu yang selalu buruk. Justru, berbagi pengalaman bisa membuat seseorang merasa terhubung dengan orang lain.

Namun, di tengah dunia digital yang serba cepat, kemampuan menjaga batas antara “ingin berbagi” dan “terlalu banyak berbagi” menjadi semakin penting.

Sebab, tidak semua yang terjadi dalam hidup harus menjadi konten. Ada cerita yang memang lebih nyaman tetap menjadi milik sendiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....