Mahasiswa Bicara soal Kebutuhan Dasar dan Ruang Belajar di Batam

  • 17 Sep 2026 15:16 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Mahasiswa di Batam menyampaikan sejumlah persoalan yang masih berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu mencakup akses air, listrik, pengelolaan sampah, transportasi publik, hingga ketersediaan ruang belajar.

Wakil Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Batam, Sulthonah Luthfi AB, mengatakan mahasiswa tidak hanya berperan dalam kegiatan akademik, tetapi juga dapat melihat dan menyampaikan persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Menurutnya, aspirasi mahasiswa dapat berangkat dari kondisi yang mereka temui secara langsung.

“Jadi sebenarnya temen-temen itu pengen mempertanyakan kinerja daripada stakeholder pemerintahan ini tuh bagaimana,” ujar Sulthonah dalam Dialog Batam Menyapa RRI Pro 1 Batam, Kamis, 10 September 2026.

Ia mengatakan mahasiswa yang mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan warga, termasuk masyarakat yang tinggal di kawasan hinterland Batam. Pengalaman tersebut membuat mahasiswa mengetahui sejumlah kebutuhan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan.

Sulthonah mencontohkan persoalan air dan listrik yang ditemui saat mahasiswa melakukan pengabdian. Ia menyebut, berdasarkan pengalaman berada beberapa hari di tengah masyarakat, terdapat wilayah yang airnya harus dibeli dan listriknya hanya tersedia pada waktu tertentu.

Selain kebutuhan dasar, persoalan sampah juga menjadi bagian dari kondisi yang menurutnya perlu mendapat perhatian. Ia menilai persoalan tersebut berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan sehingga perlu dilihat berdasarkan kondisi di lapangan.

Transportasi publik juga menjadi bagian yang dibicarakan Sulthonah. Menurutnya, mobilitas masyarakat di Batam cukup tinggi, sementara tidak semua mahasiswa maupun warga memiliki kendaraan pribadi.

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat transportasi umum menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat. Keberadaan transportasi publik juga berkaitan dengan aktivitas mahasiswa yang harus bepergian dari tempat tinggal menuju kampus maupun untuk kegiatan lainnya.

“Jadi setidaknya tiga hal itu sih yang harus menjadi concern banget ke pemerintah gitu. Belum lagi transportasi di Batam kan,” kata Sulthonah.

Selain transportasi, Sulthonah menyampaikan kebutuhan mahasiswa terhadap ruang publik untuk belajar. Menurutnya, tidak semua mahasiswa memiliki waktu belajar yang sama karena sebagian menjalani perkuliahan pada malam hari setelah bekerja pada siang hari.

Ia mengatakan keterbatasan ruang belajar menjadi salah satu alasan mahasiswa memilih tempat lain untuk mengerjakan tugas. Menurutnya, fasilitas belajar yang dapat digunakan masyarakat di luar lingkungan kampus masih diperlukan.

Sulthonah juga menyebut ruang terbuka hijau dan fasilitas literasi sebagai bagian dari kebutuhan generasi muda. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, membaca, dan melakukan aktivitas di luar lingkungan kampus.

Ia menilai mahasiswa sendiri memiliki berbagai bentuk kontribusi yang dapat dilakukan untuk Batam. Kontribusi tersebut tidak harus melalui organisasi, tetapi juga dapat dilakukan melalui bidang akademik, kegiatan sosial, komunitas, maupun kemampuan lain yang dimiliki.

Menurut Sulthonah, mahasiswa perlu terlebih dahulu mengenali kemampuan dan minat masing-masing selama menjalani pendidikan. Setelah mengetahui bidang yang dikuasai, mahasiswa dapat menentukan bentuk kontribusi yang sesuai bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....