Talkshow RRI FEST, Soroti Ancaman Limbah Fashion terhadap Lingkungan

  • 23 Agt 2026 23:48 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Persoalan fast fashion dan peningkatan limbah menjadi pembahasan dalam talkshow RRI Fest di Batam yang bertajuk Menolak Punah: Antara Gaya Hidup, Limbah, dan Masa Depan Bumi yang digelar di Atrium Pollux Mall Batam, Minggu, 23 Agustus 2026.

Kegiatan yang digelar berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa dan Ba BatamOn tersebut menghadirkan Ketua AJI Batam Yogi Eka Saputra, praktisi Slow Fashion Indina Putri Fadjar dan pegiat Upcycling Fashion Muhammad Hasbi Ramdhani. Diskusi membahas hubungan antara pola konsumsi masyarakat, penggunaan pakaian berbahan sintetis, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Indina mengatakan persoalan fast fashion telah menjadi bagian dari mata rantai konsumsi yang sulit diputus apabila tidak dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, kesadaran tersebut dapat dimulai dari lingkungan terkecil sebelum berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

Ia menilai penggunaan pakaian berbahan polyester perlu mendapat perhatian karena material tersebut merupakan bagian dari plastik. Selain bahan pakaian, sejumlah perlengkapan fashion juga dapat menggunakan material sintetis yang berpotensi menambah persoalan limbah.

“Start yang paling awal, yang paling langkah paling sederhana aja deh. Dari kita diri kita dulu deh gitu. Dengan apa, satu coba lebih bijak memilah pakaiannya,” ujar Indina.

Menurut Indina, masyarakat juga dapat memperpanjang usia pakaian dengan melakukan perawatan dan menggunakan kembali pakaian yang sudah dimiliki. Ia mencontohkan pakaian yang tidak lagi digunakan dapat didesain ulang atau dimanfaatkan kembali sehingga tidak langsung menjadi limbah.

Sementara itu, Yogi Eka Saputra menyoroti kondisi Batam sebagai wilayah yang memiliki aktivitas perdagangan pakaian bekas dan budaya thrifting. Menurutnya, thrifting memang dapat memperpanjang masa penggunaan pakaian, tetapi persoalan baru muncul ketika pakaian yang tidak terpilih akhirnya menjadi limbah.

Yogi juga mengaitkan penggunaan pakaian berbahan sintetis dengan potensi pencemaran mikroplastik. Ia menjelaskan, partikel mikroplastik dapat terlepas saat pakaian dicuci dan kemudian terbawa melalui aliran air menuju lingkungan perairan.

“Kalau di film kan dalam penelitian tujuh ratus ribu plus turun ketika kita mencuci pakaian. Dan ke mana airnya pergi? Nggak mungkin ke Singapura kan. Dan dia pergi akan ke laut. Akan ke laut,” kata Yogi.

Selain limbah fashion, Yogi menyebut persoalan ekologis di Batam juga mencakup limbah elektronik, kerusakan mangrove, serta pembangunan yang berdampak terhadap masyarakat pesisir. Ia menilai berbagai persoalan tersebut perlu mendapatkan perhatian dan kajian lebih lanjut dari berbagai pihak.

Diskusi kemudian diarahkan pada pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Perubahan perilaku dinilai dapat dimulai dari keputusan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan dan memperpanjang masa pakai barang.

Melalui talkshow tersebut, peserta diajak melihat persoalan lingkungan tidak hanya sebagai isu yang berkaitan dengan sampah, tetapi juga sebagai konsekuensi dari pola konsumsi dan gaya hidup. Kesadaran individu dan keterlibatan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di Batam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....