Riset Penyebab Hujan Ekstrem Perlu Jadi Dasar Perkuat Sistem Peringatan Dini
- 31 Jul 2026 18:12 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pemahaman terhadap penyebab hujan ekstrem menjadi kunci untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca sekaligus memperkuat sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan hasil riset mengenai dinamika atmosfer perlu terus dikembangkan agar dapat mendukung mitigasi bencana dan pengambilan keputusan berbasis sains.
"Melalui penelitian seperti ini, kita dapat memahami bagaimana berbagai proses atmosfer saling berinteraksi hingga memicu kejadian hujan ekstrem. Pengetahuan tersebut penting untuk mendukung pengembangan sistem peringatan dini dan memperkuat upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia," kata Albertus.
Salah satu penelitian yang dipaparkan mengulas hujan ekstrem yang mengguyur pesisir utara Jawa Tengah pada 13 Maret 2024 dan memicu banjir di sejumlah wilayah, termasuk Kota Semarang. Saat itu, curah hujan harian tercatat mencapai 171,6 milimeter di Tanjung Emas, 196 milimeter di Stasiun Meteorologi Ahmad Yani, dan 203,2 milimeter di Stasiun Klimatologi Jawa Tengah.
Peneliti BRIN, Alfan Sukmana Praja, mengatakan hujan dengan intensitas di atas 150 milimeter tergolong jarang berdasarkan catatan klimatologis sekitar 15 tahun terakhir di Semarang. Yang menarik perhatian tim peneliti, hujan sangat lebat hanya terkonsentrasi di wilayah pesisir utara, sementara wilayah tengah dan selatan Jawa Tengah tidak mengalami kondisi serupa.
"Yang ingin kami pahami adalah mengapa hujan sangat lebat terkonsentrasi di pesisir utara, sedangkan wilayah tengah dan selatan Jawa Tengah tidak mengalami kondisi yang sama," ujarnya.
Penelitian yang melibatkan BRIN, BMKG, Universitas Padjadjaran, Telkom University, Institut Teknologi Bandung, dan Universiti Sains Malaysia itu menggunakan berbagai sumber data, mulai dari pengamatan cuaca, radar, citra satelit, hingga simulasi atmosfer untuk menelusuri proses terbentuknya hujan ekstrem.
Hasilnya menunjukkan hujan ekstrem dipicu oleh kombinasi sejumlah fenomena atmosfer berskala besar, antara lain aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Westerly Wind Burst (WWB), Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), serta keberadaan depresi tropis di selatan Indonesia. Fenomena tersebut meningkatkan pasokan uap air ke Pulau Jawa dan menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya awan hujan.
Namun, menurut Alfan, pasokan uap air saja tidak cukup menjelaskan mengapa hujan paling lebat hanya terjadi di pesisir utara Jawa Tengah. Faktor lokal, seperti interaksi angin laut dan angin darat serta keberadaan pegunungan di selatan Semarang, berperan memperkuat pembentukan awan hujan di kawasan pesisir.
Tim peneliti kemudian menguji peran topografi melalui simulasi komputer dengan mengurangi hingga menghilangkan ketinggian pegunungan. Hasilnya menunjukkan pola hujan berubah secara signifikan. Ketika pegunungan dibuat lebih rendah, pusat hujan bergeser ke wilayah tengah Jawa Tengah. Sementara saat topografi dihilangkan, hujan ekstrem di kawasan pesisir hampir tidak terbentuk.
Menurut Alfan, temuan tersebut memperlihatkan bahwa hujan ekstrem merupakan hasil interaksi antara fenomena atmosfer global dan kondisi lokal, sehingga pemahaman terhadap kedua faktor itu penting untuk meningkatkan kemampuan memprediksi cuaca ekstrem.
"Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan prakiraan cuaca ekstrem dan sistem peringatan dini di Indonesia. Dengan memahami bagaimana berbagai faktor atmosfer saling berinteraksi, risiko bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir yang berdekatan dengan pegunungan dapat diantisipasi dengan lebih baik," ujarnya.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics melalui artikel berjudul Multi-factor Driving Mechanism of the 13 March 2024 Extreme Rainfall over Northern Coastal Central Java dan tersedia secara daring sejak 30 Juni 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....