90 Persen Pasokan Energi Indonesia Masih Bergantung pada Fosil
- 31 Jul 2026 18:02 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan pengembangan desa rendah karbon berbasis energi terbarukan di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan kebutuhan energi nasional terus meningkat sekitar 7 persen setiap tahun. Namun, lebih dari 90 persen pasokan energi Indonesia hingga kini masih berasal dari sumber energi fosil.
"Kita perlu memajukan produksi pertanian guna menurunkan emisi karbon dan meningkatkan kemandirian energi. Kita perkuat sistem ekonomi sirkular, zero waste, sehingga tidak ada limbah yang terbuang," kata Puji.
Menurut Puji, salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah konsep eco-village, yakni desa yang mampu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus energi dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal, termasuk limbah pertanian dan biomassa yang diolah menjadi energi terbarukan.
Ia mengatakan komitmen Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC), khususnya pada sektor pertanian, terestrial, dan maritim, menjadi peluang untuk memperluas penerapan konsep tersebut.
"Skema eco-village adalah bagaimana sebuah desa bisa mandiri pangan, mandiri energi, dengan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat sekitar, misalnya limbah pertanian atau biomassa yang ditransformasi menjadi energi terbarukan," ujarnya, dalam pembukaan The 2026 Green Synergy Program: Green Synergy for Low-carbon Eco Villages in Indonesia di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Rabu, 29 Juli 2026.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus kerja sama BRIN dengan Feng Chia University's University Social Responsibility (FCU USR) dan Asia-Pacific Economic Cooperation–Research Center for Advanced Biohydrogen Technology (APEC-ACABT) Taiwan melalui Green Synergy Program.
Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti, mengatakan program itu dirancang untuk memperkuat kapasitas pengembangan desa rendah karbon melalui pemanfaatan bioenergi dan penerapan ekonomi sirkular.
Menurut Ratih, program tersebut merupakan bagian dari Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI) APEC dan diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi oleh BRIN maupun Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).
| Baca juga: XERF Kini Hadir di Embba Beaty Clinic Batam |
"Program ini memanfaatkan keunggulan Indonesia di sektor pertanian dan energi terbarukan, khususnya bioenergi, untuk mendorong pengembangan masyarakat rendah karbon yang terintegrasi," katanya.
Pelatihan dilaksanakan dengan metode Training of Trainers (ToT), mencakup materi ekonomi sirkular berbasis energi, penilaian kredit karbon, asesmen kelistrikan, hingga analisis biaya dan manfaat. Peserta diharapkan dapat menjadi pelatih di daerah masing-masing dan mengembangkan model eco-village sesuai potensi lokal.
Sementara itu, Chyi-How Lay dari FCU dan APEC-ACABT mengatakan pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan hanya menghasilkan publikasi ilmiah.
Ia mencontohkan kerja sama yang telah dilakukan di Indonesia bersama Universitas Sam Ratulangi, Manado, melalui penerapan teknologi two-phase HyMeTek untuk mengolah limbah peternakan dan rumah potong hewan menjadi sumber listrik alternatif.
Program yang berlangsung selama dua hari itu diikuti 30 peserta dari lembaga penelitian, instansi pemerintah, dan perguruan tinggi. Peserta juga mengunjungi sejumlah fasilitas riset di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, termasuk fasilitas produksi biodiesel, gasifikasi, dan pirolisis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....