Wabah Menari 1518: Ketika Ratusan Orang di Strasbourg Terus Menari (Bagian 1)

  • 30 Jun 2026 20:58 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pada musim panas 1518, kota Strasbourg di kawasan Alsace yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci dan kini berada di Prancis mengalami sebuah peristiwa yang hingga kini masih menjadi misteri sejarah. Antara Juli hingga September tahun itu, puluhan hingga ratusan orang dilaporkan menari tanpa henti selama berhari-hari.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Dancing Plague of 1518 atau Wabah Menari 1518 itu melibatkan sekitar 50 hingga 400 orang. Hingga kini, para peneliti masih memperdebatkan penyebabnya. Salah satu teori yang paling banyak dikenal adalah histeria massal akibat tekanan psikologis, meski teori lain, seperti keracunan jamur ergot pada gandum, juga pernah diajukan. Artikel tersebut juga menyebut masih ada perdebatan mengenai apakah wabah itu benar-benar menyebabkan korban jiwa.

Menurut catatan sejarah, wabah bermula pada Juli 1518 ketika seorang perempuan yang dikenal sebagai Frau Troffea bersama putrinya, Fräulein Emma Götz, mulai menari tanpa kendali di sebuah jalan di Strasbourg.

Penulis Ned Pennant-Rea menyebut Frau Troffea mulai menari pada 14 Juli di jalan berbatu di depan rumahnya tanpa diiringi musik. Dalam beberapa hari, sebagian orang yang menyaksikannya mulai meniru gerakannya, termasuk suaminya, hingga lebih dari 30 orang ikut menari.

Frau Troffea disebut terus menari selama sekitar satu minggu. Ia hanya berhenti untuk tidur sebelum kembali menari.

Pada Agustus, jumlah orang yang terdampak diperkirakan meningkat menjadi antara 50 hingga 400 orang.

Catatan sejarah menggambarkan para penari mengalami gerakan yang tidak terkendali disertai kejang-kejang. Tubuh mereka dipenuhi keringat, lengan bergerak tanpa kendali, sementara sebagian saksi menyebut tatapan mereka kosong tanpa ekspresi.

Kaki para penari membengkak hingga darah menggenang dan merembes ke dalam sepatu. Banyak pula yang berteriak meminta pertolongan. Artikel tersebut menyebut, jika tidak mengalami serangan jantung, para penari dapat roboh akibat kelelahan, kelaparan, atau kehausan.

Sejumlah sejarawan menyebut pada puncak wabah hingga 15 orang meninggal setiap hari. Namun, artikel tersebut menegaskan bahwa jumlah korban jiwa masih menjadi perdebatan, dilansir dari Wikipedia.

Berbagai dokumen sejarah, termasuk catatan dokter, khotbah gereja, kronik lokal, hingga arsip dewan kota Strasbourg, menyebut para korban memang terus menari. Namun, tidak ada yang mengetahui penyebab maupun cara menghentikannya.

Ketika wabah terus berlanjut, pemerintah kota menyerahkan penanganannya kepada para dokter. Mereka berpendapat bahwa para korban harus dibiarkan terus menari hingga sembuh.

Keputusan itu justru memperburuk keadaan. Aula serikat pekerja disiapkan sebagai tempat menari. Musisi dan orang-orang bertubuh kuat juga didatangkan untuk menjaga para penari tetap berdiri.

Belakangan, dewan kota mengubah kebijakan dan melarang seluruh kegiatan menari maupun musik di ruang publik. Saat itu berkembang keyakinan bahwa wabah tersebut merupakan hukuman dari Santo Vitus, sehingga banyak orang ikut menari karena takut dianggap berdosa.

Para penari kemudian diperintahkan berziarah ke tempat suci Santo Vitus. Menurut catatan pada masa itu, mereka mengenakan sepatu merah yang telah diperciki air suci dan diberi tanda salib pada bagian atas maupun telapaknya. Mereka juga membawa salib kecil, sementara dupa dan doa dalam bahasa Latin menjadi bagian dari ritual tersebut.

Artikel Wikipedia menyebut, tidak lama kemudian beredar kabar bahwa Santo Vitus telah mengampuni para penari. Pada September 1518, wabah itu pun mulai mereda setelah para penari yang tersisa dibawa ke sebuah kapel di atas bukit untuk memanjatkan doa memohon pengampunan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....