Pengelolaan Emosi dan Ekspektasi Jadi Kunci Mendampingi Remaja dengan Autisme
- 29 Jun 2026 06:45 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Pendamping remaja dengan autisme perlu memiliki kemampuan mengelola emosi dan ekspektasi agar proses pendampingan berjalan lebih efektif. Kemampuan tersebut dinilai penting karena perkembangan setiap individu dengan autisme berlangsung dalam kecepatan yang berbeda.
Psikolog Klinis Dewasa RS Awal Bros dan Alfa Hepi Consultant Batam, Wenny Nur Annisa, mengatakan banyak orang tua maupun pendamping memiliki harapan besar terhadap perkembangan anak dalam Indonesia Autism Summit (INAS) 2026, Kamis, 11 Juni 2026. Namun, harapan tersebut harus disertai pemahaman bahwa setiap capaian membutuhkan proses.
Ia menjelaskan ekspektasi yang tidak dikelola dengan baik dapat memunculkan rasa kecewa maupun frustrasi ketika perkembangan anak tidak sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu, evaluasi secara berkala perlu dilakukan tanpa mengabaikan usaha yang telah dijalankan.
"Kita juga perlu meningkatkan kemampuan pengelolaan ekspektasi. Karena kita manusia pasti punya ekspektasi. Maka bagaimana cara mengelolanya, karena setiap anak berkembang dengan proses yang berbeda-beda," ujar Wenny.
Menurutnya, pendamping perlu menetapkan tujuan yang realistis serta menyusun prioritas dalam setiap tahapan perkembangan anak. Dengan demikian, keberhasilan dapat diukur berdasarkan proses yang telah dicapai, bukan semata-mata hasil akhir.
Selain mengelola ekspektasi, kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting dalam pendampingan. Pendamping diharapkan mampu mengenali penyebab kelelahan, memvalidasi perasaan sendiri, kemudian menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.
Wenny mengatakan cara orang tua maupun guru mengekspresikan emosi akan menjadi contoh bagi remaja dengan autisme dalam belajar mengelola emosinya sendiri. Oleh sebab itu, ketenangan pendamping memiliki pengaruh besar terhadap proses pembelajaran sosial anak.
"Mengapa pengelolaan emosi penting? Karena kita ingin bisa mengekspresikan emosi dengan berbicara tenang dan dengan cara yang pantas. Bagaimana kita bereaksi, sebenarnya itu juga sedang mengajarkan mereka," katanya.
Ia berharap para pendamping tidak hanya fokus pada target perkembangan anak, tetapi juga membangun keseimbangan emosional dalam diri sendiri. Dengan emosi yang lebih stabil dan ekspektasi yang realistis, proses mendampingi remaja dengan autisme dapat berlangsung lebih positif dan bermakna bagi kedua belah pihak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....