Perwara Indonesia Gelar Talkshow "Berpantun Saat Memandu Acara di Tanah Melayu"
- 15 Mei 2026 09:48 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam – Perwara Indonesia mengelar talkshow dengan topik "Berpantun Saat Memandu Acara di Tanah Melayu".pada hari kamis malam 14 Mei 2026 bertempat di Istana Besar Madani atau lebih di kenal Gedung LAM Kota Batam.
Acara talkshow Perwara Indonesia yang di inisisasi Bidang Diklat dan Litbang menghadirkan tiga narasumber dari seniman dan budayawan Bung Samson Rambah Pasir, kemudian Kasmuri Guru Sekolah dan juga seorang MC spesialis acara melayu serta tokoh adat dan juga MC Zarlis yang di pandun oleh Moderator Coach Mardison.serta di hadir Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata serta Pembina perwara Indonesia Buralimar dan ikut oleh anggota Perwara Indonesia Kota Batam.
Menurut Samson Melayu pernah dipahami sebagai bangsa bahari yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Modernisasi, administrasi negara-bangsa, dan sensus kemudian menyempitkannya menjadi "suku" di pesisir Sumatera dan Kalimantan.
Samson mengutip kalimat yang sering dinisbatkan pada Roland Barthes: "ketika sebuah karya selesai ditulis dan pengarang memutuskan menerbitkannya, maka saat itulah dia 'mati'."ucapnya.
Penyempitan itu nyata secara politik, tapi tidak secara budaya. Pantun tetap hidup di Batam bukan karena orang Batam semua Melayu, melainkan karena pantun telah menjadi protokol sosial. Dalam pernikahan, tepuk tepung tawar, hingga festival budaya di Kepri, berbalas pantun adalah simbol kecerdasan dan kesantunan.
Sementara itu di tempat yang sama di katakan Kasmuri dan Zalis hamper semua suku mulai dari Minangkabau memakai pantun dalam manjapuik marapulai dan batagak penghulu, Aceh punya panton, Betawi punya seloka, Dayak dan Banjar punya bentuk paralelnya. Artinya, yang kita sebut "warisan Melayu" sebenarnya adalah infrastruktur komunikasi Nusantara.
Berbicara pantun menurut Kasmuri mitos bahwa pantun lahir dari ilham. Ia mengajarkan anatomi yang bisa dilatih dengan berpantun di setiap acara.sebagai contoh pantun rima awal rima akhir
Janur di tebang menimpa dahan
Dahan kayu menimpa jerami
Sekapur sirih kami persembahakan
Takkan melayu hilang di bumi
Kebaya biru darilah linggi
Berjalur putih cantik menawan
Budaya melayu disanjung tinggi
Sekapur sirih kami persembahkan
Pada 17 Desember 2020, UNESCO menetapkan tradisi pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, nominasi bersama Indonesia-Malaysia, warisan ke-11 Indonesia yang masuk daftar. UNESCO menyebut pantun penting bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, tapi sebagai panduan moral yang menekankan keseimbangan dan harmoni antarmanusia.
Menurut perwara Indonesia dengan di gelarnya Talkshow terkait pantun dapat membantu para MC dalam menghidupkan suasana sekaligus melestrasikan budaya melayu sekaligus mendorong "pantun to school to campus", menjadi ekstrakurikuler.
Perwara Indonesia dengan profesi yang berbeda mulai dari guru budayawan, berada pada posisi strategis, mereka bukan hanya penjaga, tapi kurator hidup, dengan sinergi antara Lembaga Adat Melayu, komunitas budaya, seni, adat, serta stakeholder maka Batam bisa menjadi laboratorium nasional untuk menguji model pembelajaran pantun berbasis acara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....