Tiga Waduk di Batam Alami Penurunan Debit, BP Batam Mulai Kendalikan Distribusi Air

  • 30 Mar 2026 20:36 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Tiga dari tujuh waduk utama yang dikelola Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatatkan penurunan debit air. Meski belum memasuki tahap kritis, kondisi ini menjadi alarm bagi pengelola untuk lebih disiplin dalam mengatur pasokan.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyampaikan bahwa secara umum pasokan air bersih dari tujuh waduk masih dalam kondisi aman. Namun, hasil pemantauan terbaru menunjukkan penyusutan di beberapa titik.

“Secara umum masih aman, tapi ada penurunan di beberapa waduk. Sei Harapan turun sekitar 51 sentimeter, Nongsa 1,2 meter, dan Muka Kuning 2,4 meter,” ujarnya beberapa waktu yang lalu usai dialog Batam Menyapa di RRI Batam.

Penurunan debit tersebut terjadi di tengah kondisi atmosfer yang mulai mengarah pada fase kering. Fenomena El Nino yang diperkirakan muncul pada semester II tahun 2026 turut menjadi faktor yang diperhitungkan oleh pengelola.

Bagi Batam, persoalan air bukan sekadar isu cuaca. Kota yang berstatus kawasan ekonomi khusus ini sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung di waduk. Tidak ada sumber air dari pegunungan atau aliran sungai besar. Ketika hujan berkurang, cadangan air pun ikut tertekan.

Dalam kondisi seperti ini, BP Batam mulai mengatur ritme produksi dan distribusi. Pengendalian suplai menjadi kunci agar cadangan air yang tersimpan tidak cepat terkuras.

“Produksi dan suplai harus kita kontrol. Ini penting untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang,” kata Ariastuty.

Selain langkah teknis, BP Batam juga menekankan pentingnya peran masyarakat. Penggunaan air secara bijak dinilai menjadi bagian krusial dalam menjaga ketahanan pasokan. Imbauan disampaikan agar masyarakat tidak menggunakan air secara berlebihan, terutama untuk aktivitas yang tidak mendesak.

Di saat yang sama, potensi gangguan lain seperti kebakaran di kawasan hutan lindung juga menjadi perhatian serius. Ariastuty mengingatkan warga agar tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan, khususnya di area dekat daerah tangkapan air.

“Itu bisa berdampak langsung pada suplai air ke depan,” ujarnya.

Sejauh ini, belum ada indikasi defisit air. Namun, jika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan, BP Batam menyatakan telah menyiapkan skenario lanjutan. Penguatan distribusi, efisiensi produksi, hingga langkah pengaturan suplai menjadi opsi yang dapat diterapkan.

Dengan kondisi ini, Batam berada dalam fase waspada. Belum krisis, tetapi tidak lagi sepenuhnya aman. Ketersediaan air bersih ke depan akan sangat bergantung pada disiplin pengelolaan oleh pemerintah serta kesadaran masyarakat dalam menggunakan air secara bijak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....