Tradisi Puasa Unik di Lima Negara Dunia

  • 26 Feb 2026 20:34 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Tradisi menjalankan ibadah puasa tidak hanya berlangsung di Indonesia, tetapi juga dijalankan dengan ragam kebiasaan unik di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara memiliki cara khas dalam menyambut, menjalani, hingga menutup ibadah puasa Ramadan yang dipengaruhi budaya lokal dan sejarah panjang masing-masing bangsa. Dirangkum dari berbagai referensi ensiklopedis.

Berikut lima negara dengan tradisi puasa yang dikenal memiliki keunikan tersendiri.

  1. Di Mesir, suasana Ramadan identik dengan hiasan lentera warna-warni atau fanous yang menghiasi rumah, jalan, hingga pusat perbelanjaan. Lentera ini menjadi simbol kegembiraan menyambut bulan suci dan telah menjadi tradisi turun-temurun sejak era Dinasti Fatimiyah. Selain itu, masyarakat Mesir memiliki kebiasaan berkumpul bersama keluarga besar untuk berbuka puasa dengan hidangan khas seperti ful medames dan koshari.

  2. Turki memiliki tradisi penabuh bedug keliling atau davulcu yang membangunkan warga untuk sahur. Tradisi ini telah berlangsung sejak era Kesultanan Utsmaniyah dan masih dipertahankan di sejumlah kota hingga kini. Para penabuh bedug biasanya mengenakan pakaian tradisional, berkeliling kampung pada dini hari sebagai penanda waktu sahur, sekaligus mempererat ikatan sosial di lingkungan warga.

  3. Di Maroko, momen berbuka puasa diawali dengan bunyi tembakan meriam yang dikenal sebagai “nafir” atau meriam Ramadan. Tanda ini menjadi penanda resmi waktu berbuka di sejumlah kota besar. Tradisi ini berpadu dengan sajian khas seperti harira (sup kacang dan daging), chebakia (kue wijen manis), serta kurma yang selalu hadir di meja berbuka masyarakat Maroko.

  4. Pakistan dikenal dengan tradisi “Chaand Raat”, yakni perayaan malam menjelang Idulfitri setelah terlihatnya hilal. Meski bukan bagian langsung dari puasa, Chaand Raat menjadi penutup rangkaian Ramadan yang meriah. Pasar dan pusat perbelanjaan dipadati warga yang membeli gelang, inai, serta pakaian baru. Tradisi ini mencerminkan nuansa kebersamaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

  5. Sementara itu, di Indonesia, tradisi membangunkan sahur dilakukan dengan cara khas seperti ronda keliling sambil memukul kentongan atau alat musik sederhana. Di beberapa daerah, kegiatan ini dikemas dengan iringan musik tradisional atau yel-yel kreatif warga. Selain itu, tradisi berbagi takjil gratis di pinggir jalan menjelang waktu berbuka menjadi pemandangan umum yang merefleksikan kuatnya nilai gotong royong selama Ramadan.

Keberagaman tradisi tersebut menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan sekadar praktik spiritual, tetapi juga melekat pada budaya dan identitas sosial masing-masing negara. Meski berbeda dalam bentuk perayaan dan kebiasaan, esensi puasa tetap sama, yakni menumbuhkan ketakwaan, kepedulian sosial, dan solidaritas antar sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....