Energi Hijau Buka Peluang Hilirisasi Mineral dan Investasi Bernilai Tambah Tingg

  • 30 Sep 2026 09:56 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah melihat pengembangan ekonomi hijau sebagai peluang untuk memperkuat hilirisasi sumber daya alam sekaligus menarik investasi bernilai tambah tinggi. Ketersediaan energi bersih, andal, dan terjangkau dinilai menjadi salah satu kunci untuk membangun industri hijau di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengambil peran dalam rantai pasok ekonomi hijau global, terutama melalui kekayaan mineral strategis seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara.

Menurut Airlangga, hilirisasi yang ditopang energi bersih dapat meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.

Peluang tersebut juga terlihat dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Pemerintah mencatat sektor ini berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga 67 kali lipat, dengan permintaan yang diproyeksikan mencapai USD5,91 triliun pada 2045.

“Jadi inilah the golden moment sebetulnya buat Indonesia untuk bisa dikembangkan,” ujar Airlangga dalam Seminar Nasional Investortrust bertema Green Economy 2045: Menjadikan Ekonomi Hijau sebagai Mesin Pertumbuhan Baru Menuju Indonesia Emas yang Inklusif, Berdaya Saing, Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (29/9).

Peluang Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis juga mendapat perhatian dari berbagai mitra internasional. Airlangga menyebut Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada menunjukkan minat untuk bekerja sama dengan Indonesia di bidang mineral kritis.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan dalam diversifikasi rantai pasok mineral kritis global. Selain mineral, Indonesia juga memiliki sumber daya pasir silika yang dapat mendukung pengembangan industri panel surya di dalam negeri.

“Dan di lain itu juga kita memiliki pasir silika yang jumlahnya besar, dan ini bisa mendorong untuk kita mempunyai tuan rumah untuk solar panel,” kata Airlangga.

Untuk mempercepat pengembangan proyek hijau, pemerintah mendorong optimalisasi berbagai instrumen pembiayaan, mulai dari green bonds, blended finance, hingga dukungan melalui Just Energy Transition Partnership (JETP) dan Asia Zero Emission Community (AZEC).

Berbagai skema tersebut diarahkan untuk mempercepat realisasi proyek energi bersih sekaligus memperkuat ekosistem investasi hijau Indonesia.

Kebutuhan investasi juga menjadi semakin penting seiring target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027. Untuk mencapai sasaran tersebut, investasi diperkirakan perlu tumbuh sekitar 8–9 persen dengan kebutuhan penanaman modal mencapai Rp2.218–2.258 triliun.

Selain pembiayaan, pemerintah menilai kesiapan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam pengembangan industri hijau. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia didorong melalui Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi dan Program Vokasi untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor ekonomi hijau.

Dengan pengembangan energi bersih, hilirisasi mineral, kendaraan listrik, industri panel surya, serta ekonomi digital, pemerintah melihat ekonomi hijau dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....