Indonesia Rusia Perkuat Kerja Sama Ketahanan Energi Nasional

  • 16 Apr 2026 20:38 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Pemerintah Indonesia terus memperkuat langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui kerja sama internasional. Salah satu langkah terbaru adalah kemitraan dengan pemerintah Rusia yang mencakup pasokan minyak mentah (crude) serta pembangunan infrastruktur energi.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis 16 April 2026. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja pemerintah Indonesia ke Rusia yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting di sektor energi.

Menurut Bahlil, kerja sama ini membawa kabar menggembirakan bagi Indonesia. Rusia disebut siap memasok minyak mentah sekaligus berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur energi yang dibutuhkan untuk memperkuat cadangan nasional. Langkah ini dinilai strategis, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.

Saat ini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Namun, produksi dalam negeri masih berada di kisaran 600–610 ribu barel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk terus mencari sumber pasokan baru dari berbagai negara, termasuk Rusia.

Selain itu, pemerintah juga memastikan bahwa ketersediaan minyak mentah nasional hingga akhir tahun 2026 dalam kondisi aman. Hal ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo agar Indonesia mampu menjaga stabilitas energi di tengah ketidakpastian global. Dengan jaminan pasokan tersebut, pemerintah kini dapat lebih fokus pada peningkatan kapasitas dan efisiensi kilang dalam negeri.

Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada pasokan minyak mentah. Pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan liquefied petroleum gas (LPG), mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG per tahun. Diversifikasi sumber energi dan mitra strategis menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap satu negara atau kawasan tertentu.

Lebih jauh, kolaborasi dengan Rusia juga diharapkan mampu mempercepat pembangunan infrastruktur energi seperti kilang, fasilitas penyimpanan, dan distribusi. Infrastruktur ini sangat krusial dalam meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dengan semakin dekatnya tahap finalisasi kerja sama pasokan minyak mentah, Indonesia menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat fondasi energi nasional. Sinergi internasional ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya dalam menjaga pasokan energi, tetapi juga dalam menciptakan kemandirian energi yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....