Dukungan Sosial Dinilai Penting untuk Mendampingi Remaja dengan Autisme

  • 29 Jun 2026 08:47 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Keberhasilan mendampingi remaja dengan autisme tidak hanya bergantung pada keluarga maupun tenaga profesional. Dukungan sosial dari lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting yang membantu proses perkembangan sekaligus meningkatkan kualitas hidup para pendamping.

Psikolog Klinis Dewasa RS Awal Bros dan Alfa Hepi Consultant Batam, Wenny Nur Annisa dalam Indonesia Autism Summit (INAS) 2026, Kamis, 11 Juni 2026, mengatakan pendamping remaja dengan autisme membutuhkan ruang untuk saling berbagi pengalaman, memperoleh informasi, dan membangun jejaring yang mampu memberikan dukungan emosional maupun pengetahuan baru.

Menurutnya, saat ini semakin banyak komunitas, kelompok pendukung, hingga institusi pendidikan yang mulai memberikan perhatian terhadap pendidikan inklusif. Kondisi tersebut menjadi perkembangan positif yang perlu terus diperkuat agar semakin banyak keluarga mendapatkan akses pendampingan yang memadai.

"Dukungan sosial yang diperoleh keluarga dan pendamping sangat dibutuhkan. Mudah-mudahan dengan berkembangnya pemahaman dan kebijakan yang lebih autism friendly, dukungan itu semakin meluas," ujar Wenny.

Ia menjelaskan sekolah juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi remaja dengan autisme. Tidak hanya kesiapan menerima peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga membangun pemahaman guru dan siswa lain agar mampu berinteraksi secara positif.

Wenny menambahkan berbagai sekolah kini mulai mempersiapkan diri menjadi sekolah inklusif dengan melibatkan tenaga profesional sebagai pendamping. Upaya tersebut dinilai menjadi langkah maju dalam mewujudkan layanan pendidikan yang lebih setara.

Selain dukungan dari sekolah, keluarga juga dianjurkan aktif mengikuti komunitas maupun kelompok orang tua yang memiliki pengalaman serupa. Dari forum tersebut, para pendamping dapat saling bertukar pengalaman dan memperoleh strategi baru dalam menghadapi tantangan sehari-hari.

"Berdiskusi tidak harus selalu dengan ahlinya. Dengan sesama terapis, sesama orang tua yang ada dalam support group, maupun sesama guru juga sangat bisa dilakukan. Yang penting kita bersedia masuk dalam proses pemahaman," katanya.

Wenny berharap kolaborasi antara keluarga, sekolah, tenaga profesional, dan masyarakat terus diperkuat sehingga remaja dengan autisme memperoleh lingkungan yang lebih mendukung untuk berkembang secara optimal selama menjalani masa transisi menuju dewasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....