BPOM Dorong Kolaborasi untuk Percepat Pengembangan Terapi Inovatif di Indonesia
- 30 Apr 2026 23:10 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pengembangan terapi kesehatan berbasis teknologi mutakhir di Indonesia.
Hal itu disampaikan dalam kuliah tamu di Indonesia International Institute for Life Sciences pada 27 April 2026, yang mengangkat topik implementasi Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP). Forum ini mempertemukan kalangan akademisi, industri, dan pemerintah untuk membahas kesiapan Indonesia dalam mengembangkan terapi berbasis gen, sel, dan bioteknologi.
Dalam paparannya, Taruna menekankan bahwa pendekatan kolaborasi academia-business-government (ABG) menjadi kunci untuk mempercepat inovasi sekaligus memastikan keamanan dan mutu produk kesehatan. Ia menyatakan bahwa regulator tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga fasilitator dalam mendorong akses masyarakat terhadap obat inovatif.
“Target utama kami adalah memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap terapi inovasi, sekaligus mendukung industri agar berkembang tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kualitas,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara PT Kalbe Farma Tbk dan i3L University, serta turut menghadirkan akademisi seperti Radiyati yang memaparkan riset terkait penyakit osteoarthritis.
BPOM menjelaskan bahwa melalui model ABG, proses pengembangan inovasi kesehatan dapat berjalan lebih terintegrasi, mulai dari riset di perguruan tinggi, pengembangan produk oleh industri, hingga pendampingan regulasi oleh pemerintah. Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi produk yang dapat digunakan masyarakat.
Secara global, terapi berbasis biologi seperti terapi gen dan sel menunjukkan perkembangan pesat, dengan ribuan produk tengah dikembangkan di berbagai negara. Terapi ini dinilai membuka peluang pengobatan yang lebih personal dan presisi, khususnya untuk penyakit kronis, kanker, dan kelainan genetik.
Namun, BPOM mengakui bahwa pengembangan ATMP masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kompleksitas produksi, kebutuhan data klinis jangka panjang, serta aspek keamanan yang harus diawasi secara ketat.
Selain manfaat kesehatan, pengembangan ATMP juga dipandang memiliki potensi ekonomi yang besar, mulai dari peningkatan investasi hingga penciptaan lapangan kerja di sektor farmasi nasional.
BPOM berharap kolaborasi yang diperkuat melalui forum akademik seperti ini dapat mendorong inovasi kesehatan yang tidak hanya canggih, tetapi juga aman, terjangkau, dan dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....