Rusia Karantina 200 Orang Usai Pekerja Laboratorium Wabah Meninggal
- 06 Okt 2026 17:09 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Otoritas kesehatan Rusia melakukan langkah pencegahan setelah seorang pekerja laboratorium di lembaga penelitian penyakit pes di wilayah Siberia meninggal dunia. Sejumlah orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan pekerja tersebut ditempatkan dalam karantina untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit menular.
Dilansir dari Reuters, kematian pekerja laboratorium itu terjadi di wilayah Irkutsk dan sempat memicu kekhawatiran publik setelah informasi mengenai kasus tersebut menyebar di media sosial. Meski demikian, pemerintah Rusia menyatakan situasi masih terkendali dan belum menemukan bukti bahwa kematian tersebut berkaitan dengan aktivitas pekerjaannya.
Kepala badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, Anna Popova, bahkan datang langsung ke Siberia untuk mengikuti pertemuan darurat. Langkah tersebut dilakukan di tengah proses pemeriksaan terhadap orang-orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan pekerja yang meninggal.
Media Rusia melaporkan sekitar 200 orang menjalani karantina. Rumah sakit di Kota Shelekhov, tempat pekerja tersebut meninggal, juga membatasi sejumlah area. Sementara itu, sebuah pabrik aluminium setempat meminta karyawannya menggunakan masker.
Pekerja yang meninggal tersebut diketahui bernama Darya Shipilova, berusia 28 tahun. Ia bekerja di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East.
Keterangan mengenai penyebab penyakit yang dialaminya masih belum sepenuhnya jelas. Otoritas Rusia menyatakan Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
Gubernur wilayah Irkutsk Igor Kobzev mengatakan tidak ada indikasi peningkatan kasus baru di lingkungan lembaga penelitian tersebut.
"Yang terpenting, selama beberapa hari terakhir tidak ditemukan kasus baru staf Institut Antipes yang mencari pertolongan medis," kata Kobzev.
Rospotrebnadzor juga memastikan penyelidikan terhadap kemungkinan penyebaran penyakit terus dilakukan. Dari orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan Shipilova, petugas menemukan dua kasus COVID-19 dan dua kasus rhinovirus.
Namun, tidak ditemukan penyakit menular lainnya di antara kelompok tersebut. Pemerintah Rusia juga meminta masyarakat tidak panik karena hingga kini belum ada bukti yang menghubungkan kematian Shipilova dengan pekerjaannya di laboratorium.
Sebelumnya, muncul rumor di media sosial yang menyebut pekerja tersebut mengalami kecelakaan saat bekerja. Salah satu informasi yang beredar menyatakan ia diduga menjatuhkan tabung berisi bakteri hidup.
Rospotrebnadzor membantah adanya bukti mengenai insiden tersebut. Lembaga itu mengatakan hasil pemeriksaan internal tidak menunjukkan adanya kecelakaan dalam proses penanganan patogen di institut penelitian.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menilai risiko terhadap masyarakat luas saat ini relatif rendah. Penilaian tersebut masih dapat diperbarui apabila informasi baru mengenai kasus tersebut ditemukan.
"Risiko kesehatan masyarakat terhadap populasi secara umum tampaknya rendah," kata WHO.
WHO menegaskan penilaian risiko lanjutan akan dilakukan setelah informasi yang lebih lengkap tersedia.
Kekhawatiran terhadap penyakit pes muncul karena Siberia merupakan salah satu wilayah yang secara alami menjadi habitat bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut dapat ditemukan pada mamalia kecil liar dan kutu yang hidup di kawasan tersebut.
Meski penyakit pes masih ditemukan di berbagai negara, kasus pada manusia di Rusia tergolong jarang. Penyakit tersebut lebih sering dilaporkan di beberapa wilayah lain di dunia, terutama Afrika.
Pes dapat muncul dalam tiga bentuk, salah satunya pes pneumonik yang menyerang paru-paru. Jenis ini dapat menyebabkan penderita mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri ketika batuk.
Penyakit tersebut sebenarnya dapat ditangani dengan antibiotik apabila diketahui dan ditangani secara cepat. Namun, tanpa pengobatan, pes dapat berkembang menjadi kondisi fatal dalam waktu satu hingga enam hari.
Perkembangan kasus tersebut juga mendapat perhatian dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menawarkan bantuan kepada Rusia untuk menangani situasi tersebut.
"Kami akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami selalu bersedia membantu," kata Trump.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyatakan pemerintah Washington terus mengikuti perkembangan kasus tersebut.
Hingga kini, otoritas Rusia menyatakan seluruh kontak yang diketahui telah ditelusuri, diperiksa, dan ditempatkan dalam pengawasan medis. Pemerintah setempat memastikan situasi masih berada dalam kendali sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....