PSI Singapura Kembali Tidak Sehat, Kabut Asap dari Kalimantan Mengancam
- 15 Sep 2026 09:03 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Kualitas udara di wilayah tengah Singapura kembali masuk kategori tidak sehat pada Senin 14 September 2026, setelah indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) mencapai 102. Kondisi tersebut terjadi setelah kualitas udara di seluruh wilayah Singapura sempat berada dalam kategori sedang selama beberapa hari.
Berdasarkan pembacaan resmi National Environment Agency (NEA) pada siang hari, PSI 24 jam tercatat 91 di wilayah timur dan barat, 82 di selatan, serta 79 di utara. Dengan demikian, hanya wilayah tengah yang kembali menembus ambang tidak sehat, sementara daerah lainnya masih berada dalam kategori sedang.
Kondisi ini kembali meningkatkan perhatian terhadap kabut asap lintas batas di kawasan Asia Tenggara. NEA melaporkan masih terdapat kepulan asap dengan intensitas sedang hingga pekat dari kebakaran di Kalimantan yang terpantau bergerak menuju Singapura. Kepulan asap juga terpantau dari wilayah Sumatra bagian selatan.
Sebelumnya, PSI wilayah tengah Singapura pertama kali menembus kategori tidak sehat pada 4 September dengan angka 101. Dalam periode berikutnya, sejumlah wilayah seperti bagian timur dan barat juga sempat mengalami peningkatan PSI hingga melewati ambang 100. Peristiwa September ini menjadi yang pertama sejak Oktober 2023 ketika kabut asap kembali mendorong kualitas udara Singapura ke level tidak sehat.
NEA memperkirakan kualitas udara selama 24 jam berikutnya berada pada kisaran kategori sedang hingga batas bawah kategori tidak sehat. Kondisi cuaca di Kalimantan serta Sumatra bagian tengah dan selatan diperkirakan masih relatif kering, meskipun hujan diprediksi terjadi di wilayah utara Sumatra dan barat laut Borneo. Angin yang bertiup dari arah tenggara atau selatan membuat risiko kabut asap menuju Singapura tetap ada.
Dalam sistem PSI Singapura, angka 0-50 dikategorikan baik, sedangkan 51-100 masuk kategori sedang. Sementara itu, angka 101-200 masuk kategori tidak sehat, sehingga masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kondisi ini terutama menjadi perhatian bagi kelompok rentan yang lebih berisiko terdampak polusi udara.
Kembalinya kabut asap menjadi pengingat bahwa kondisi kebakaran lahan dan hutan di kawasan regional dapat berdampak lintas negara, terutama ketika berlangsung pada periode kering dan didukung arah angin tertentu. Pemantauan titik panas, kondisi meteorologi, serta kualitas udara menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi dan melindungi masyarakat dari paparan polusi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....