Korban Tembus 750, Ribuan Orang Masih Hilang
- 31 Agt 2026 08:28 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Upaya pencarian ribuan orang yang masih hilang terus dilakukan setelah runtuhnya gletser di kawasan perbatasan Nepal dan China memicu banjir bandang serta longsoran material dahsyat pada 26 Agustus 2026. Hingga 30 Agustus, jumlah korban meninggal dunia mencapai sedikitnya 750 orang, sementara lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan.
Bencana tersebut terjadi setelah aliran es, batu, lumpur, dan puing menerjang lembah serta sungai di kawasan Himalaya. Nepal melaporkan 734 orang meninggal, 2.498 masih hilang, dan 7.514 orang telah berhasil diselamatkan. Sementara di wilayah Gyirong, Tibet, China, sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dan 546 lainnya masih hilang.
Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi medan pegunungan yang sulit, cuaca buruk, serta meningkatnya permukaan air sungai akibat hujan baru. Tim penyelamat bahkan beberapa kali harus menghentikan operasi sejak 28 Agustus karena muncul kekhawatiran danau yang terbentuk akibat material longsoran dapat meluap dan memicu banjir susulan. Drone kemudian mendeteksi longsor baru sekitar 2,8 kilometer di hilir danau yang membentuk bendungan alami serta genangan air baru.
Di Nepal, fokus penyelamatan kini diarahkan ke sejumlah terowongan pembangkit listrik tenaga air yang diduga masih memerangkap ratusan pekerja. Tim penyelamat berhasil membuat akses menuju salah satu terowongan dan mulai mengalirkan udara serta memasukkan kamera untuk mengetahui kondisi di dalam. Pemerintah Nepal menyebut bantuan khusus masih dibutuhkan untuk operasi penyelamatan terowongan, pemeriksaan DNA, penyimpanan jenazah, dan identifikasi forensik.
Dampak bencana juga meluas kepada warga negara asing. China melaporkan 261 warga negara asing dari 23 negara masih belum ditemukan di wilayah Tibet. Mereka antara lain berasal dari Nepal, India, Latvia, Amerika Serikat, dan Inggris. Pemerintah Nepal dan China meningkatkan koordinasi untuk membantu proses pencarian serta identifikasi warga yang hilang.
Besarnya jumlah korban juga membuat proses identifikasi jenazah menjadi tantangan tersendiri. Di Nepal, otoritas mulai melakukan pemakaman massal terhadap jenazah yang belum teridentifikasi karena sebagian telah mengalami kerusakan berat. Petugas mendokumentasikan jenazah dan mengambil sampel DNA sebagai upaya membantu keluarga menemukan anggota keluarganya di kemudian hari.
Bencana ini turut meningkatkan perhatian terhadap risiko perubahan iklim dan ketidakstabilan gletser di kawasan Himalaya. China mengaitkan bencana dengan ketidakstabilan gletser akibat dampak jangka panjang pemanasan global, sementara para ahli menilai meningkatnya pencairan es dapat memperbesar risiko bencana di kawasan pegunungan tinggi. China telah mengerahkan lebih dari 2.100 personel penyelamat, bantuan peralatan, drone, serta dana sedikitnya 220 juta yuan untuk mendukung penanganan bencana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....