Sri Lanka Salurkan Air untuk 72 Ribu Warga Terdampak Kekeringan

  • 21 Agt 2026 11:18 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Reuters Pemerintah Sri Lanka mempercepat penyaluran bantuan air bersih kepada hampir 72.000 warga di tujuh distrik yang terdampak kekeringan parah. Krisis air tersebut dikaitkan dengan kondisi El Niño yang berkembang tahun ini dan berpotensi menjadi salah satu periode kekeringan terburuk dalam beberapa dekade. Pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar 4,8 miliar rupee Sri Lanka atau sekitar 14 juta dolar AS untuk mendukung distribusi air kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menteri Lingkungan Sri Lanka Dammika Patabendi mengatakan pemerintah sebelumnya memperkirakan fenomena El Niño mencapai puncaknya sekitar November. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan puncak fenomena tersebut kemungkinan terjadi lebih cepat. Pemerintah untuk sementara menyiapkan langkah penanganan hingga pekan ketiga September dan akan memperpanjang program bantuan apabila kondisi kekeringan masih berlangsung.

Air bersih didistribusikan menggunakan truk tangki dari wilayah yang relatif tidak terdampak kekeringan menuju daerah-daerah yang mengalami krisis. Setiap keluarga menerima sekitar 75 liter air setiap dua hingga tiga hari untuk memenuhi kebutuhan minum dan sanitasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat terbatasnya akses terhadap air bersih.

Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga sektor pertanian. Pemerintah menyebut ratusan waduk kecil di berbagai wilayah Sri Lanka mengalami penurunan volume air hingga sekitar 10 persen. Kondisi tersebut membuat tanaman seperti kelapa dan berbagai jenis sayuran mengalami tekanan akibat kekurangan air. Sebelumnya, jumlah warga yang terdampak cuaca kering telah mencapai lebih dari 68.000 orang di sejumlah distrik, dengan Monaragala menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.

Fenomena El Niño sendiri merupakan pola iklim alami di Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Juni 2026 memperkirakan peluang munculnya kondisi El Niño mencapai sekitar 80 persen pada periode Juni hingga Agustus dan meningkat menjadi sekitar 90 persen untuk September hingga Desember. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar sejumlah ekstrem cuaca, termasuk gelombang panas dan kekeringan di kawasan tertentu.

Kekeringan juga mengancam satwa liar di taman nasional Sri Lanka. Pemerintah telah menyalurkan air menggunakan kendaraan tangki ke sejumlah taman nasional, termasuk Yala, Wilpattu, Kumana, dan Bundala. Di Taman Nasional Yala, yang dikenal sebagai habitat penting bagi subspesies macan tutul endemik Sri Lanka, sistem pompa bertenaga surya turut digunakan untuk memasok air bagi satwa. Dua sistem pompa tenaga surya di Yala sebelumnya juga telah diperbaiki dan kembali dioperasikan untuk menghadapi kekurangan air.

Pemerintah Sri Lanka memperkirakan hujan monsun pada akhir tahun dapat membawa curah hujan yang lebih tinggi dan membantu memulihkan sumber air. Namun, pemerintah juga memperingatkan kekeringan berpotensi kembali terjadi pada awal tahun depan. Karena itu, pengelolaan sumber daya air, distribusi air darurat, perlindungan pertanian, serta penyediaan air bagi satwa menjadi bagian penting dari strategi menghadapi dampak perubahan pola iklim dan El Niño.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....