Krisis BBM, Bangladesh Terancam Gangguan Jaringan Telekomunikasi

  • 21 Apr 2026 11:41 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Bangladesh berada di ambang gangguan besar pada layanan komunikasi seluler akibat krisis bahan bakar yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah. Operator memperingatkan bahwa tanpa perbaikan cepat dalam pasokan energi, jaringan telekomunikasi berpotensi lumpuh dalam waktu dekat.

Dilansir dari AFP, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 170 juta jiwa, Bangladesh sangat bergantung pada impor energi, di mana sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan gas dipasok dari luar negeri, terutama Timur Tengah. Kondisi ini membuat negara tersebut terpukul ketika pasokan terganggu, terlihat dari antrean panjang di SPBU yang bisa berlangsung hingga berjam-jam.

Association of Mobile Telecom Operators of Bangladesh menegaskan bahwa keberlangsungan operasional jaringan kini terancam serius. Ketersediaan bahan bakar yang terbatas tidak lagi mampu menopang aktivitas penting, termasuk pengoperasian pusat data yang menjadi tulang punggung layanan digital.

“Situasi ini telah melampaui kendali operasional,” tulis AMTOB dalam surat kepada Bangladesh Telecommunication Regulatory Commission.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, terdapat risiko besar dalam waktu dekat terjadinya penghentian jaringan telekomunikasi secara luas di berbagai wilayah negara.”

Dampak krisis tersebut disebut sudah mulai dirasakan oleh operator. Keterbatasan listrik dari jaringan utama serta tidak adanya jaminan pasokan bahan bakar untuk sistem cadangan membuat operasional semakin tertekan.

Pusat data yang menjadi pusat kendali jaringan diketahui membutuhkan konsumsi solar dalam jumlah besar, mencapai ratusan liter per jam atau ribuan liter per hari. Namun, SPBU setempat tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga cadangan bahan bakar di sejumlah fasilitas penting kini berada pada level kritis.

Sekretaris Jenderal AMTOB, Mohammad Zulfikar, mengingatkan bahwa jika pusat data berhenti beroperasi, dampaknya akan merembet ke seluruh sistem komunikasi.

“Pemadaman jaringan sebagian atau total dapat membuat layanan panggilan, internet, SMS, dan seluruh layanan lainnya berhenti total atau mengalami gangguan serius,” ujarnya.

“Internet bisa menjadi sangat lambat atau bahkan sepenuhnya terputus, karena pusat data adalah pusat kendali tempat lalu lintas jaringan diatur dan diarahkan.”

Di tengah situasi ini, pemerintah Bangladesh mengambil langkah dengan menaikkan harga bahan bakar. Solar mengalami kenaikan sebesar 15 persen, sementara bensin naik 16 persen. Kebijakan ini langsung memicu reaksi dari pelaku transportasi yang meminta penyesuaian tarif.

Menteri Energi, Iqbal Hasan Mahmud, menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang tidak terhindarkan akibat tekanan global. “Seluruh dunia melakukan penyesuaian harga, bahkan Amerika Serikat,” katanya.

Meski pemerintah telah menginstruksikan peningkatan distribusi bahan bakar ke SPBU, kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan berarti. Warga masih harus mengantre dalam waktu lama hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Seorang pengendara motor, Md Sagar, mengaku harus menunggu hingga tiga jam namun hampir tidak bergerak dari antrean. Sementara pengemudi lain, Zakir Mia, menyebut dirinya membutuhkan waktu hingga 16 jam untuk mengisi bahan bakar, dengan banyak orang lain harus menunggu antara 10 hingga 12 jam di lokasi yang sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....