PM Wong dan Anwar Sepakat Perkuat Diplomasi Atas Krisis Timur tengah
- 21 Apr 2026 12:03 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan komunikasi langsung dengan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim guna membahas situasi terkini yang berkembang di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari CNA, dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin menegaskan kesamaan pandangan mengenai pentingnya mempertahankan jalur diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik yang berlangsung.
Selain isu geopolitik, diskusi juga mencakup langkah konkret untuk memperkuat ketahanan rantai pasok antara Singapura dan Malaysia, mengingat dampak konflik global terhadap stabilitas ekonomi kawasan.
“Kami sepakat bahwa diplomasi yang berkelanjutan sangat penting untuk mencapai penyelesaian krisis yang tahan lama,” ujar Wong.
“Kami juga membahas bagaimana Singapura dan Malaysia dapat bekerja sama lebih erat untuk memperkuat ketahanan rantai pasok,” tambahnya.
Wong menjelaskan bahwa pembicaraan berlangsung pada Senin sore dan menitikberatkan pada perkembangan terbaru di Timur Tengah. Ia menilai bahwa dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini, hubungan antarnegara tetangga harus semakin solid melalui koordinasi yang erat dan saling dukung.
Di sisi lain, Anwar menyampaikan bahwa kedua negara juga menyambut positif adanya gencatan senjata sementara, sekaligus menekankan perlunya solusi jangka panjang untuk mengakhiri konflik.
“Malaysia mendukung upaya diplomasi yang sedang berlangsung, termasuk peran Pakistan dalam memfasilitasi dialog, serta menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz,” kata Anwar.
Lebih lanjut, ia menyoroti fokus Malaysia dalam memperkuat ketahanan sistem energi nasional, termasuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan. Upaya kolaborasi kawasan juga terus diperkuat melalui inisiatif ASEAN Power Grid.
“Kami akan terus memprioritaskan kebutuhan domestik dan memastikan Malaysia serta kawasan tetap tangguh di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.
Konflik di Timur Tengah sendiri bermula pada 28 Februari ketika United States bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan sejumlah lokasi di Israel dan wilayah Teluk.
Situasi semakin meluas setelah Lebanon ikut terseret akibat serangan yang dilakukan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, terhadap Israel.
Menjelang batas waktu gencatan senjata, baik Amerika Serikat maupun Iran menyatakan kesiapan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik. Upaya diplomasi masih belum menemui kepastian, terlebih setelah AS menyita kapal kargo Iran yang diduga mencoba menembus blokade.
Pemerintah AS juga mengumumkan bahwa Wakil Presiden JD Vance akan kembali ke Islamabad untuk melanjutkan perundingan tahap kedua, meskipun Iran belum memastikan keikutsertaannya.
Di tengah ketegangan tersebut, Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menindak kapal yang melintasi Strait of Hormuz tanpa izin. Jalur ini diketahui sangat vital bagi distribusi minyak global. Presiden AS Donald Trump turut menuduh Iran melakukan gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....