Harga Beras Asia Melonjak Dampak Konflik Iran
- 15 Apr 2026 22:22 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Dilansir dari Bloomberg Lonjakan harga beras terjadi di Asia setelah dampak konflik di Iran mulai memengaruhi pasokan global. Kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk memicu kekhawatiran terhadap produksi, bahkan membuat sebagian petani di Thailand memilih tidak memanen atau menunda penanaman. Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan biaya produksi mulai berdampak langsung pada pasar pangan.
Harga beras putih Thailand—yang menjadi acuan di kawasan Asia—melonjak sekitar 10 persen menjadi US$423 per ton pada pekan yang berakhir 8 April. Ini merupakan kenaikan terbesar sejak Agustus 2023, meskipun sebelumnya harga sempat berada di tren menurun dan mendekati level terendah dalam lebih dari satu dekade. Kenaikan tajam ini menunjukkan perubahan cepat dalam dinamika pasar akibat faktor eksternal.
Menurut analis komoditas senior Rabobank di Singapura, Oscar Tjakra, sejumlah petani di Thailand mulai menghentikan budidaya karena keuntungan yang diperoleh tidak lagi mampu menutup biaya produksi yang terus meningkat. Situasi ini diperburuk oleh musim kemarau panjang yang mengurangi hasil panen dan memperketat pasokan beras di pasar.
Selain itu, penguatan mata uang baht serta meningkatnya biaya pengiriman dan asuransi akibat konflik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga. Thailand sendiri merupakan eksportir beras terbesar ketiga di dunia menurut data US Department of Agriculture, sehingga gangguan produksi di negara tersebut berdampak luas pada pasar global. Saat ini, para petani di kawasan tengah memanen hasil di luar musim sambil bersiap untuk musim tanam utama yang dimulai sekitar Mei.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan kemungkinan meredanya konflik dengan Iran. Namun, pemulihan distribusi energi global, khususnya melalui Selat Hormuz, diperkirakan membutuhkan waktu. Hal ini membuat biaya input seperti bahan bakar dan pupuk berpotensi tetap tinggi lebih lama, yang pada akhirnya dapat terus menekan produksi dan menjaga harga beras tetap tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....