Hacker Klaim Curi 78 Juta Data Rockstar Games

  • 14 Apr 2026 13:19 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Sebuah kelompok peretas yang dikenal kerap menargetkan perusahaan besar dunia mengaku berhasil mengakses puluhan juta data internal milik pengembang gim Rockstar Games, studio di balik seri Grand Theft Auto.

Informasi tersebut muncul melalui unggahan di situs yang digunakan kelompok ShinyHunters pada akhir pekan lalu, sebagaimana dilaporkan oleh platform pemantau kejahatan siber eCrime.ch.

Dilansir dari Reuters, perwakilan kelompok itu mengklaim telah memperoleh sekitar 78,6 juta data yang berasal dari akun Rockstar di layanan pengelolaan data Snowflake. Mereka menyebut kebocoran ini berawal dari celah pada Anodot, platform analitik berbasis kecerdasan buatan yang terhubung dengan sistem tersebut.

Hingga saat ini, perusahaan induk Rockstar yang berbasis di New York, Take-Two Interactive Software, belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, pihak Rockstar Games menyatakan bahwa memang terjadi akses terhadap sebagian kecil data internal yang tidak bersifat krusial akibat insiden pada pihak ketiga, namun ditegaskan bahwa kejadian tersebut tidak berdampak pada operasional maupun pengguna.

Dari sisi Snowflake, pihak perusahaan menegaskan bahwa sistem mereka tidak mengalami peretasan langsung. Insiden ini disebut murni dipicu oleh kebocoran dari pihak Anodot, bukan dari infrastruktur Snowflake itu sendiri.

Pihak Anodot yang bermarkas di Israel belum memberikan pernyataan karena berada di luar jam kerja saat dimintai konfirmasi.

Sebagai langkah antisipasi, Snowflake langsung memutus akses seluruh akun yang berkaitan dengan Anodot setelah mendeteksi aktivitas mencurigakan dalam sistem mereka.

Laporan dari media teknologi Bleeping Computer menyebut data yang diduga bocor mencakup berbagai informasi sensitif, seperti pendapatan dalam gim, pola pembelian pemain, hingga data perilaku pengguna dan ekonomi dalam permainan Grand Theft Auto Online serta Red Dead Online.

Meski begitu, kebenaran data yang diklaim telah dicuri tersebut belum dapat dipastikan secara independen.

Kelompok ShinyHunters juga tidak memberikan keterangan terkait kemungkinan adanya tuntutan tebusan ataupun komunikasi dengan pihak Rockstar maupun Take-Two.

Kasus ini menambah daftar panjang insiden serupa yang menargetkan pengguna Snowflake, di mana lebih dari 160 perusahaan dilaporkan terdampak sepanjang 2024, termasuk Ticketmaster, Santander Group, dan Advance Auto Parts.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....