Soundtrack Film yang Kembali Viral

  • 17 Sep 2026 15:23 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Soundtrack menjadi salah satu elemen penting dalam sebuah film. Tidak hanya membantu membangun suasana dalam adegan, sebuah lagu juga dapat memiliki perjalanan sendiri setelah digunakan dalam film, bahkan kembali populer bertahun-tahun setelah pertama kali dirilis.

Salah satu contoh paling menarik adalah "Murder on the Dancefloor" milik Sophie Ellis-Bextor. Lagu yang dirilis pada 2001 tersebut kembali mendapat perhatian luas setelah digunakan dalam film Saltburn pada 2023. Popularitasnya kemudian berkembang di media sosial dan membawa lagu tersebut kembali masuk ke sejumlah tangga lagu internasional lebih dari dua dekade setelah pertama kali dirilis.

Fenomena serupa terjadi pada "What Was I Made For?" yang dinyanyikan Billie Eilish untuk film Barbie. Lagu tersebut menjadi bagian penting dari cerita film sekaligus mendapat perhatian besar dari publik. Lagu karya Billie Eilish dan Finneas itu kemudian meraih penghargaan Golden Globe untuk kategori Best Original Song, memperlihatkan bagaimana soundtrack dapat berdiri sebagai karya musik tersendiri di luar film.

Dari film The Greatest Showman, lagu "This Is Me" yang dibawakan Keala Settle juga menjadi salah satu contoh soundtrack yang berkembang jauh melampaui fungsi sebagai pengiring adegan. Lagu tersebut menjadi salah satu karya yang paling dikenal dari film musikal tersebut dan memiliki pesan yang kuat mengenai penerimaan diri serta keberanian untuk tampil apa adanya.

Di Indonesia, fenomena soundtrack yang mendapat kehidupan baru juga terjadi pada sejumlah lagu. "Terbuang Dalam Waktu" dari Barasuara, misalnya, kembali mendapat perhatian setelah digunakan dalam film Sore: Istri dari Masa Depan. Lagu tersebut sebenarnya telah dirilis sebelum film hadir, tetapi penggunaan dalam cerita membuatnya kembali memiliki konteks dan pendengar baru.

Ada pula "Berakhir di Aku" milik Idgitaf yang menjadi soundtrack film Home Sweet Loan. Lagu tersebut memiliki kedekatan dengan persoalan yang diangkat film, seperti tekanan kehidupan, keluarga, kondisi finansial, dan perjuangan generasi muda. Hubungan antara lirik dengan cerita membuat lagu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai musik pengiring, tetapi ikut memperkuat emosi yang dibangun sepanjang film.

Sementara itu, "Selalu Ada di Nadimu" yang dibawakan Bunga Citra Lestari menjadi bagian dari film animasi Jumbo. Kehadiran lagu dalam film membuat soundtrack tersebut ikut menjadi bagian dari pengalaman penonton setelah menyaksikan perjalanan para karakter. Musik dan visual kemudian saling melengkapi untuk membangun kesan yang lebih kuat terhadap cerita.

Fenomena lainnya dapat dilihat melalui lagu "Komang" milik Raim Laode. Lagu tersebut telah lebih dulu populer sebelum film dengan judul yang sama dirilis, tetapi kehadiran film memberikan ruang baru bagi lagu tersebut untuk kembali diperbincangkan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara film dan musik tidak selalu berjalan satu arah karena lagu juga dapat membantu memperkuat identitas sebuah film.

Popularitas soundtrack pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sebuah film ditonton. Adegan yang kuat, lirik yang dianggap relate, hingga potongan video yang beredar di media sosial dapat membuat sebuah lagu kembali ditemukan oleh generasi baru. Bagi sebagian pendengar, soundtrack bahkan bisa menjadi alasan untuk mengenal film, sementara bagi penonton lainnya, sebuah lagu justru menjadi cara untuk kembali mengingat cerita yang pernah mereka saksikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....