Iqro, Buku Belajar Membaca Al-Qur’an yang Mengubah Cara Anak-Anak Belajar Mengaji

  • 31 Agt 2026 22:44 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Bagi banyak anak Muslim di Indonesia, belajar membaca Al-Qur’an dimulai dari sebuah buku tipis yang terdiri dari beberapa jilid. Buku itu dikenal luas dengan nama Iqro, metode pembelajaran yang selama puluhan tahun digunakan di masjid, taman pendidikan Al-Qur’an, pesantren hingga lingkungan keluarga.

Dilansir dari Wikipedia, Iqro atau Iqra berasal dari bahasa Arab yang berarti “Bacalah!”. Buku dengan judul lengkap Buku Iqro': Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an disusun oleh As'ad Humam bersama Team Tadarus Angkatan Muda Masjid-Musholla atau AMM yang berbasis di Yogyakarta.

Buku tersebut mulai diterbitkan pada awal 1990-an sebagai sarana pembelajaran awal untuk membantu umat Islam membaca huruf Arab dan melafalkan bacaan Al-Qur’an. Penggunaannya terutama ditujukan bagi anak-anak, mulai dari taman kanak-kanak hingga awal sekolah dasar.

Kehadiran Iqro tidak terlepas dari kondisi pembelajaran membaca Al-Qur’an di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia bukan penutur bahasa Arab, sementara huruf Arab tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kecuali dalam konteks tertentu, terutama keagamaan.

Karena itu, membaca Al-Qur’an membutuhkan kemampuan khusus dalam mengenali huruf Arab sekaligus melafalkan berbagai bunyinya. Sejumlah bunyi dalam bahasa Arab juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia sehingga membutuhkan latihan tersendiri.

Sebelum Iqro populer, pembelajaran membaca Al-Qur’an banyak menggunakan metode yang dikenal sebagai metode tradisional atau Baghdadi. Metode tersebut menggunakan buku Qa'idah Baghdadiyyah ma'a Juz 'Amma dan mengandalkan teknik mengeja huruf serta tanda vokal sebelum mengucapkan sebuah kata secara utuh.

Metode Baghdadi juga sangat bergantung pada hubungan langsung antara guru dan murid. Dalam praktiknya, guru memberikan instruksi secara bertahap, sementara murid mengikuti dan mengulangi bacaan yang diberikan.

Iqro menawarkan pendekatan berbeda. Buku ini dirancang agar siswa memiliki peran lebih aktif dalam proses belajar. Guru tidak harus memberikan instruksi secara terus-menerus, tetapi lebih banyak mendengarkan bacaan siswa dan memberikan koreksi ketika diperlukan.

Enam Jilid dari Dasar hingga Tajwid

Salah satu ciri utama Iqro adalah pembagian materi ke dalam enam jilid. Keenamnya disusun secara bertahap, dari pengenalan huruf Arab hingga aturan dasar membaca Al-Qur’an atau tajwid.

Iqro 1 memperkenalkan huruf-huruf Arab dalam bentuk terpisah dengan vokal a atau fathah. Pada Iqro 2, siswa mulai mempelajari huruf dalam bentuk bersambung, baik di awal, tengah maupun akhir kata.

Materi kemudian meningkat pada Iqro 3 dengan pengenalan vokal i atau kasrah dan vokal u atau dhammah. Selanjutnya, Iqro 4 memperkenalkan materi seperti tanwin, sukun dan qalqalah.

Pada Iqro 5, siswa mulai mempelajari berbagai bentuk alif lam serta aturan tajwid seperti idgham. Sementara Iqro 6 memperkenalkan aturan tajwid lainnya, termasuk iqlab, ikhfa' dan aturan wakaf atau cara berhenti dalam membaca Al-Qur’an.

Meski mengajarkan kemampuan membaca, Iqro pada dasarnya tidak dirancang untuk mengajarkan arti dari teks bahasa Arab yang dibaca. Kemampuan membaca yang diperoleh melalui metode ini dapat menjadi dasar bagi siswa yang kemudian ingin melanjutkan pembelajaran bahasa Arab atau pendidikan keagamaan yang lebih mendalam.

Berawal dari Yogyakarta

Di balik penyebaran Iqro terdapat perjalanan panjang yang bermula di Yogyakarta. As'ad Humam, seorang ulama dan pedagang, bersama Team Tadarus AMM mengembangkan metode tersebut setelah melihat berbagai tantangan dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an.

Menurut sejarah yang dicatat dalam Wikipedia, sebuah kelompok belajar Al-Qur’an telah berdiri di Yogyakarta pada 1953 dan ketika itu masih menggunakan metode tradisional. Pada 1973, As'ad Humam mulai mengadakan diskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam proses pengajaran membaca Al-Qur’an.

Diskusi tersebut kemudian berkembang menjadi pembentukan Team Tadarus AMM. Tim itu melakukan evaluasi terhadap metode pengajaran yang digunakan ketika itu dan menyimpulkan bahwa diperlukan pendekatan baru yang dinilai lebih efektif.

Berbagai percobaan metode pembelajaran kemudian dilakukan hingga menghasilkan sistem yang menjadi cikal bakal metode Iqro. Pada 1988, tim tersebut memperoleh penghargaan dari Dinas Agama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Memasuki 1992, buku Iqro telah dipasarkan di berbagai wilayah Indonesia. Penyebarannya berlangsung bersamaan dengan berkembangnya Taman Pendidikan Al-Qur’an atau TPA, yang banyak didirikan di masjid-masjid dan lingkungan masyarakat.

Perkembangan TPA kemudian semakin memperluas penggunaan Iqro. Organisasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia atau BKPRMI turut melatih para pengajar TPA menggunakan bahan dan teknik pembelajaran Iqro.

Menyeberang ke Malaysia

Penggunaan Iqro kemudian tidak berhenti di Indonesia. Metode tersebut menyebar ke negara tetangga, Malaysia, dan memperoleh tempat dalam sistem pendidikan agama di negara tersebut.

Pada 1994, pemerintah Malaysia menetapkan Iqro sebagai salah satu metode resmi pengajaran membaca Al-Qur’an di sekolah dasar. Meski demikian, versi Malaysia memiliki sejumlah perbedaan dengan buku yang digunakan di Indonesia.

Salah satu perbedaannya terdapat pada bahasa instruksi. Dalam versi Malaysia, petunjuk pembelajaran dapat menggunakan bahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Jawi, yang masih digunakan dalam sejumlah konteks pendidikan Islam di negara tersebut.

Popularitas Iqro sering dikaitkan dengan pendekatannya yang memungkinkan siswa belajar membaca Al-Qur’an secara bertahap. Setiap jilid memberikan tingkat kesulitan yang lebih tinggi sehingga siswa dapat berkembang dari mengenali huruf hingga memahami aturan dasar pelafalan.

Namun, metode tersebut juga tidak luput dari kritik. Sebagian pendukung metode tradisional menilai pendekatan Iqro memiliki kelemahan karena dianggap kurang memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai materi yang dipelajari.

Meski terdapat perbedaan pandangan mengenai metode terbaik dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an, Iqro telah menjadi bagian penting dari pengalaman pendidikan agama bagi jutaan anak Muslim di Indonesia dan Malaysia.

Lebih dari sekadar buku pelajaran, Iqro menjadi pintu awal bagi banyak anak untuk mengenal huruf Arab dan mulai membaca Al-Qur’an. Perjalanan buku tersebut dari sebuah pengembangan metode pembelajaran di Yogyakarta hingga digunakan secara luas di dua negara menunjukkan bagaimana sebuah pendekatan pendidikan dapat berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....