Kunci Sukses Pendidikan Digital Berawal dari Komunikasi Keluarga

  • 29 Mei 2026 22:27 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Derasnya arus digitalisasi di era persimpangan antara industri 4.0 dan Society 5.0 membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Saat ini, siswa dapat dengan mudah mengakses informasi, data, hingga jawaban instan melalui kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) hanya dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat kurikulum konvensional kerap kehilangan daya tarik di mata anak didik.

Menyikapi fenomena tersebut, Tokoh Kerukunan Beragama Kota Batam, Dr. Drs. I Wayan Catrayasa, M.M., menegaskan bahwa kunci utama dalam menyeimbangkan kesuksesan akademik digital dan moralitas generasi muda bukan berada di tangan guru atau sekolah, melainkan berakar kuat pada ketahanan komunikasi di dalam internal keluarga.

"Teknologi digital harus kita jadikan sebagai ekosistem penggerak kesuksesan, bukan penghambat. Namun, fondasi agar anak tidak tersesat di ruang digital adalah kehangatan dan intensitas komunikasi di dalam rumah," ujar I Wayan Catrayasa saat berdialog di RRI Batam.

Guna membangun benteng moral yang kuat, Wayan membedah empat jalur komunikasi krusial yang wajib dihidupkan kembali oleh setiap orang tua:

1. Intensitas Komunikasi Ayah dan Ibu

Hubungan komunikasi harian antara suami dan istri menjadi role model utama bagi anak dalam melihat bagaimana sebuah interaksi yang sehat dibangun.

2. Hubungan Emosional Ibu dan Anak

Ibu memegang peran sentral dalam memberikan sentuhan pengasuhan batin yang mampu mendeteksi perubahan emosional anak sejak dini.

3. Kehadiran Figur Ayah

Ayah tidak boleh sekadar menjadi penyedia materi. Figur ayah wajib hadir secara nyata, mengenali tempat anak bersekolah, tahu siapa gurunya, dan menjalin komunikasi dua arah yang suportif dengan anak.

4. Komunikasi Integrasi Satu Meja

Minimal sekali dalam sebulan, seluruh anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak harus duduk bersama di satu meja tanpa interupsi gawai. Momen ini digunakan untuk saling mengevaluasi perkembangan pendidikan anak, mendengarkan keluh kesah pekerjaan orang tua, hingga membahas hubungan sosial dengan tetangga sekitar.

Wayan mengingatkan para orang tua agar tidak mengganti kehadiran kasih sayang dengan fasilitas materi yang berlebihan, seperti membelikan kendaraan mewah sebelum waktunya. Fasilitas yang tidak selaras dengan kematangan usia justru memicu munculnya sifat egois, kesombongan, dan perilaku destruktif di sekolah.

Pendidikan moral (afektif) yang bersumber dari keluarga harus mampu menanamkan nilai-nilai integritas, toleransi, empati, dan penghormatan terhadap kearifan lokal (local wisdom).

"Jadikan teknologi sebagai alat kolaborasi global dan personalisasi belajar yang sehat. Ketika anak-anak kita dibekali dengan etika beradab yang tinggi dari rumah, mereka akan siap menghadapi disrupsi pekerjaan di masa depan dan menjadi generasi yang membawa kemajuan bagi bangsa," pungkas Wayan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....