Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Inflasi dan Tekan Mata Uang Global

  • 31 Mar 2026 23:11 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Lonjakan tajam harga minyak dunia menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan global. Harga minyak Brent tercatat di sekitar US$114,6 per barel, melonjak sekitar 58% sepanjang Maret—kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.

Kenaikan ini memicu kekhawatiran inflasi dan mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global. Pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Di sisi lain, pasar juga mulai mengantisipasi dampak jangka panjang dari konflik berkepanjangan terhadap pertumbuhan ekonomi global. Kombinasi tekanan inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi meningkatkan risiko stagflasi, yang menyulitkan bank sentral dalam menentukan kebijakan.

Di pasar valuta asing, yen Jepang sempat melemah ke level 160,47 per dolar—terendah sejak intervensi terakhir pada Juli 2024—sebelum menguat tipis ke 159,77. Pelemahan ini memicu kekhawatiran intervensi dari otoritas Jepang.

Pejabat mata uang Jepang, Atsushi Mimura, menyatakan pemerintah siap mengambil langkah tegas jika pergerakan spekulatif berlanjut. Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, juga menegaskan pihaknya akan memantau ketat pergerakan yen karena dampaknya terhadap ekonomi dan inflasi.

Sementara itu, dolar Australia melemah 0,3% ke US$0,6851 dan menuju penurunan bulanan 3,8%. Dolar Selandia Baru juga turun 0,4% ke US$0,57275, dengan pelemahan bulanan sekitar 4,4%.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....