Air Laut Karangantu Surut Ekstrem, Kapal Nelayan dan Wisata Kandas

  • 13 Agt 2026 15:24 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Air laut di Pelabuhan Karangantu, Kota Serang mengalami surut ekstrem yang membuat dasar perairan terlihat jelas dan dangkal.
  • Kondisi surut menyebabkan perahu nelayan dan kapal wisata tidak bisa bergerak karena air hanya terkonsentrasi di bagian tengah alur.
  • Pemilik kapal wisata Nalang melaporkan bahwa surut ekstrem pernah menyebabkan lalu lintas perairan lumpuh total saat libur Lebaran, dengan kapal tertahan berjam-jam.

RRI.CO.ID, Serang - Dasar perairan di sekitar Pelabuhan Karangantu, Kota Serang, sempat terlihat jelas saat air laut mengalami surut cukup jauh. Kondisi dangkal ini bikin perahu nelayan hingga kapal wisata kelimpungan dan tak bisa bergerak lantaran sisa air hanya terkonsentrasi di bagian tengah alur.

Pemilik kapal wisata di Karangantu, Nalang menceritakan, fenomena surut ekstrem ini bahkan pernah bikin lalu lintas perairan lumpuh total saat libur Lebaran lalu. Kapal yang mau bersandar atau keluar pelabuhan terpaksa tertahan berjam-jam.

"Waktu Lebaran benar-benar sampai macet di sini. Kapal nelayan, wisata, semuanya nyangkut. Airnya cuma tersisa sedikit di tengah-tengah. Nelayan kadang-kadang ngetem dulu di luar sana, nunggu air naik baru berani masuk," kata Nalang kepada RRI, Kamis, 13 Agustus 2026.

Nalang menyebut, pola pasang surut ini kerap berubah tergantung musim angin. Saat angin timur bertiup, air laut biasanya baru mulai pasang menjelang siang hingga sore hari. Sebaliknya, begitu masuk musim angin barat, air justru tinggi di pagi hari dan langsung surut saat sore jelang malam.

Pola pasang surut ini jadi patokan utama para penyedia jasa kapal wisata yang melayani rute ke Pulau Lima maupun tur keliling pelabuhan. Jika surut terlalu dangkal atau ombak sedang mengamuk, para pemilik kapal memilih tak narik ketimbang membahayakan nyawa penumpang.

"Kalau memang kondisinya membahayakan, kita enggak bakal operasi. Kalau masih aman ya jalan, paling cuma sebatas minta penumpang pulang lebih cepat. Soalnya kasihan juga warga yang mau liburan murah, kan tarif keliling cuma Rp10 ribu buat dewasa dan Rp5 ribu buat anak-anak," tutur Nalang.

Menanggapi fenomena tersebut, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas I Serang, Fadholi, meluruskan anggapan masyarakat. Ia menegaskan, surutnya air laut di pesisir tidak bisa disamakan dengan peristiwa kekeringan yang terjadi di daratan.

Fadholi menjelaskan, pasang surut perairan murni dipengaruhi oleh dinamika gravitasi antara Bulan, Bumi, dan Matahari. Fenomena laut yang tampak sangat dangkal menandakan perairan tersebut sedang memasuki fase pasang minimum atau surut maksimum.

"Kalau di laut ada surut, itu kaitannya bisa terjadi karena sedang dalam kondisi pasang minimum atau lagi surut maksimal. Jadi ini fenomena alamiah pasang surut, bukan karena air lautnya mengering," ucap Fadholi.

Meski begitu, dia tak menampik bahwa faktor musim tetap memengaruhi pergerakan angin dan gelombang di perairan Banten. Pada musim kemarau seperti saat ini, pergerakan angin timur memang jauh lebih dominan membawa massa udara kering dan memicu perubahan pola pasang surut harian di kawasan pesisir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....