Mendulang Rezeki dari Program Makan Bergizi
- 09 Jan 2026 15:57 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Pagi hari di sebuah sudut Komplek Majasari, Kelurahan Sukaratu, Kabupaten Pandeglang, sebuah dapur umum resmi beroperasi dalam mendukung sebuah program pemerintah. Dapur tersebut bukan hanya sekadar pusat distribusi nutrisi, bagi ribuan penerima manfaat, melainkan menjadi tempat perekonomian puluhan warga lokal yang selama ini berjuang mencari penghidupan di tengah sulitnya lapangan kerja.
Hadir sebagai bagian dari program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Yayasan Sancang Almuhajirin Peduli ini, tak hanya fokus pada pemenuhan nutrisi ribuan anak sekolah. Lebih dari itu, unit usaha ini menjadi solusi konkret atas terbatasnya lapangan kerja di wilayah Pandeglang.
Sebanyak 47 orang warga diserap untuk mengisi berbagai posisi strategis, mulai dari tim pengolahan hingga tim pencucian. Kehadiran unit usaha ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi anak-anak sebagai bagian dari program MBG, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi pengangguran di wilayah Pandeglang.
Baca juga: MBG di Pandeglang Tetap Berjalan Selama Libur Sekolah
Pekerja yang terlibat didominasi oleh warga sekitar dengan latar belakang usia yang beragam, mulai dari anak muda hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang menjadikan pekerjaan ini sebagai penghasilan utama maupun sampingan.
Salah seorang Pekerja, Firmansyah mengaku kini ia tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh menuju Cibaliung seperti saat tiga tahun bekerja di sektor ekspedisi. Keputusannya bergabung sebagai tim packing di SPPG Yayasan Sancang Almuhajirin Peduli, didasari pada efisiensi jarak yang sangat signifikan. Saat ini, pria asal Komplek Majasari tersebut hanya perlu berjalan kaki dari rumah menuju tempat kerja, sebuah perubahan sederhana tetapi berdampak besar bagi ritme hidupnya.
"Kebetulan saya di ekspedisi itu jauh ya, di Cibaliung. Dan ini kebetulan SPPG ini dekat rumah banget. Jadi kenapa saya ambil? Ya karena dekat rumah aja," ucapnya.
Baca juga: Tak Ada Biaya, Enam Dapur MBG di Pandeglang Terhenti Sementara
Sektor pekerjaan yang semakin sempit di Indonesia membuat kehadiran SPPG dipandang Firman sebagai sebuah kesempatan berharga. Baginya dan puluhan pekerja lain, ketersediaan lapangan kerja yang layak di level lokal adalah solusi nyata di tengah sulitnya mencari penghidupan. Ia melihat antusiasme masyarakat begitu tinggi untuk bergabung dalam ekosistem dapur ini karena keterbukaan akses bagi warga lokal yang ingin bekerja.
Ia berharap produksi di SPPG Sukaratu terus bertumbuh secara konsisten. Ia memimpikan jumlah paket yang dikemas setiap harinya terus meningkat, yang diharapkan dapat berbanding lurus dengan kesejahteraan para pekerja. Melalui dapur gizi ini, Firman tidak hanya sekadar mengemas makanan, tetapi juga mengemas harapan baru untuk masa depan ekonominya.
"Di Indonesia ini kan susah banget cari pekerjaan. Selagi masih ada pekerjaan, ya mungkin orang-orang mau lah di SPPG ini," ujarnya.
Baca juga: Dindikbud Pandeglang Sebut MBG Dongkrak Semangat Belajar Siswa
Sementara, Wakil Ketua Satgas MBG Kabupaten Pandeglang, Doni Hermawan menuturkan, dampak ekonomi ini memang menjadi tujuan utama selain pemenuhan gizi. "Harapan kami, program ini tidak hanya memberi makan anak-anak, tapi masyarakat terberdayakan tenaga kerja terserap, UMKM bergerak, dan ekonomi lokal berputar luar," ucap Doni.
Dia menjelaskan, berdasarkan evaluasi terbaru, saat ini terdapat 98 SPPG yang terdaftar di Satgas MBG Pandeglang yang tersebar di 35 kecamatan. Ia berharap SPPG tidak hanya menjadi tempat memasak, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Ia berharap pengelola SPPG bisa memprioritaskan warga sekitar sebagai pekerja seperti tim pengolahan, packing, hingga pencucian. Agar terjadi perputaran ekonomi yang nyata di wilayah tersebut, sehingga masyarakat memiliki pendapatan yang lebih baik tanpa harus merantau jauh. (Ridwan Maulana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....