Antrean Senja, Berbagi dan Senyum di Kampung Rancasawah
- 19 Feb 2026 19:14 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Sore itu, menjelang azan magrib, jalan lingkungan di Kampung Rancasawah dipenuhi langkah-langkah kecil dan sapaan warga. Anak-anak berlarian sambil membawa kantong plastik, sebagian ibu berdiri berjejer menunggu giliran. Aroma kolak hangat dan gorengan baru terangkat dari wajan bercampur dengan riuh percakapan.
Di teras rumah sederhana itulah, pengusaha layanan seluler, Ahmad Hasuri, membagikan takjil kepada warga sekitar.
Pembagian takjil ini bukan kegiatan pertama. Sejak Oktober tahun lalu, Hasuri rutin menggelar sarapan pagi gratis. Setiap hari, 500 hingga 1.000 porsi disiapkan untuk warga. Ketika Ramadan tiba, program itu berlanjut dalam bentuk takjil berbuka puasa.
“Rencananya seterusnya. Sebelum puasa kami ada sarapan pagi gratis dan belum pernah berhenti. Sekarang diganti takjil,” ujar Hasuri, Kamis, 19 Februari 2026.
Pada hari pembagian itu, sekitar 350 paket disiapkan. Namun jumlah warga yang datang diperkirakan lebih dari 500 orang. Dalam waktu kurang dari satu jam, takjil habis dibagikan. Bahkan sebelum pukul 16.00 WIB, warga sudah mulai berkumpul.
Isi paket takjil yang dibagikan berupa kolak, gorengan, teh kemasan dan minyak goreng kemasan. Bagi Hasuri, kesederhanaan bukan soal utama. Ia memilih berbagi makanan karena menurutnya memberi makan orang yang berpuasa memiliki makna tersendiri.
“Ini bulan puasa. Sebaik-baiknya sedekah itu memberi makan,” katanya.
Warga yang datang berasal dari daerah sekitar, Informasi pembagian takjil menyebar dari mulut ke mulut, terutama dari kebiasaan sarapan gratis yang sudah berjalan sebelumnya.
Di antara kerumunan, Nita, warga Kampung Rancasawah, tampak menggenggam kantong plastik berisi kolak, gorengan, teh kemasan, dan minyak goreng. Ia datang bersama anaknya yang sejak tadi menunggu di sampingnya.
“Alhamdulillah buat anak buka puasa. Senang dapatnya,” ujarnya
Ia mengaku sebelumnya juga rutin datang saat ada sarapan pagi gratis. Baginya, bukan semata soal makanan, tetapi kebersamaan yang terasa.
“Kalau sebelum puasa kan makan pagi di sini. Sekarang jadi takjil. Anak-anak memang sudah tahu tempatnya,” katanya.
Tak jauh dari lokasi, Masita berdiri sambil menenangkan cucunya yang datang sedikit terlambat. Ia tiba setelah salat Asar dan mendapati takjil sudah habis. “Telat sedikit. Tadi salat dulu,” katanya.
Meski tidak mendapat bagian, ia mengaku tidak kecewa. Di rumah, makanan untuk berbuka sudah tersedia. Namun cucunya ingin datang karena melihat teman-temannya membawa kantong takjil.
“Namanya anak kecil, lihat yang lain dapat jadi pengin juga. Saya bilang, kalau enggak dapat ya enggak apa-apa. Di rumah ada,” katanya.
Ia menilai kegiatan berbagi seperti ini membawa suasana berbeda di lingkungan mereka. Warga berkumpul, saling menyapa, dan berbincang ringan sambil menunggu waktu berbuka.
“Senang saja lihatnya. Jadi ramai. Walaupun enggak kebagian, tetap senang lihat orang pada bahagia,” katanya.
Hasuri juga menjelaskan kegiatan berbagi takjil dilakukan secara pribadi, dibantu para tetangga. Sementara ia juga rutin memberikan santunan anak yatim dan bantuan sembako, ia bergerak bersama komunitas pedagang yang tergabung dalam Persatuan Niaga Seluler Indonesia. Kegiatan santunan digelar rutin tiga kali setahun, termasuk saat Ramadan, Muharram, dan Zulhijah, dengan penerima yang sudah terdata dan digilir dari berbagai wilayah.
Di tengah usaha layanan seluler yang ia jalankan, Ramadan menjadi ruang lain baginya ruang untuk memastikan ada yang pulang dengan senyum, meski hanya membawa sekantong kolak dan gorengan hangat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....