Batu Laki Jadi Habitat Bekantan

  • 04 Okt 2026 10:15 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kawasan Batu Laki di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi berbagai satwa liar. Termasuk bekantan yang merupakan primata endemik Kalimantan.

Keberadaan bekantan di kawasan Situs Batu Gamping Batu Laki, yang masuk dalam wilayah Meratus UNESCO Global Geopark, membuka peluang pengembangan wisata berbasis alam. Sekaligus edukasi konservasi biodiversitas.

Berdasarkan pengamatan Jayusman bersama tim, bekantan relatif mudah ditemukan di kawasan tepian sungai pada sore hari. Selain bekantan, sejumlah primata lain seperti monyet ekor panjang dan lutung kelabu juga terlihat di kawasan tersebut.

Jayusman mengatakan, keberadaan berbagai jenis primata itu menunjukkan bahwa kawasan Batu Laki masih menyediakan habitat yang mendukung kehidupan satwa. “Pada sore hari, bekantan, monyet ekor panjang, dan lutung kelabu relatif mudah ditemukan di tepian sungai. Bagi bekantan, kawasan tepian sungai dengan vegetasi yang masih tersedia merupakan bagian penting dari habitat alaminya,” ujarnya.

Temuan keberadaan satwa tersebut juga diperkuat melalui pemantauan menggunakan drone dan pengamatan langsung bersama biologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark. Potensi biodiversitas ini dinilai dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.

Tidak hanya menikmati panorama alam, pengunjung juga berkesempatan mengenal kekayaan satwa dan pentingnya menjaga kelestarian habitat. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah keberadaan lanting wisata di kawasan Batu Laki.

Desain Grafis Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Muhammad Fredly Andri, mengatakan lanting dapat dimanfaatkan sebagai tempat pengamatan. Serta dokumentasi satwa dari jarak aman.

“Adanya lanting memudahkan pengunjung untuk mengamati dan mendokumentasikan satwa dari jarak tertentu, sehingga aktivitas pengamatan dapat dilakukan tanpa harus mendekati atau mengganggu habitat satwa,” katanya.

Menurutnya, konsep wisata tersebut dapat menggabungkan tiga aspek, yakni pariwisata, edukasi, dan konservasi. Meski demikian, aktivitas pengamatan harus tetap memperhatikan perilaku satwa.

Pengunjung perlu menjaga jarak, menghindari suara bising, serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi mengganggu kehidupan alami satwa. Kelestarian vegetasi dan kualitas lingkungan di sepanjang tepian sungai juga menjadi faktor penting agar bekantan dan satwa lainnya tetap memiliki ruang hidup yang memadai.

Dengan pengelolaan yang memperhatikan daya dukung lingkungan, Batu Laki berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan edukasi biodiversitas di Kalimantan Selatan. Tanpa mengesampingkan perlindungan habitat sebagai prioritas utama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....